Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pembicaraan soal siapa pemimpin berikutnya mulai memenuhi ruang publik. Meski Pemilu masih sangat jauh, forum-forum diskusi politik mulai membedah peluang, simulasi survei, elektabilitas, dan gestur-gestur elite. Namun, dalam gemuruh kalku lasi itu, satu hal terasa hilang: jiwa kepe mimpinan sebagai laku batin, bukan sekadar strategi naik panggung. Padahal bangsa ini sedang tidak hanya butuh pengganti, tapi penyembuh.
Indonesia hari ini memerlukan pemimpin yang tidak hanya unggul secara administratif, tetapi mendalam secara moral dan spiritual. Bukan sosok yang piawai membangun narasi citra, tapi yang berani menenggelamkan dirinya ke tengah luka rakyat. Yang tidak hanya kuat mengatur, tapi juga tulus merawat. Yang lebih memilih menjadi pelayan, bukan mendominasi. Yang bisa membaca tangis dalam diam rakyatnya, bukan sekadar membaca polling.
Baca juga : Memulihkan Hati Kolektif Bangsa
Dalam khazanah sufistik, kepemimpinan yang ideal diibaratkan seperti air. Ia tidak berkompetisi untuk menjadi yang tertinggi, tetapi meresap ke akar-akar kehidupan. Ia membasuh luka, menumbuhkan harapan, dan menghidupkan yang nyaris mati. Ia jernih, menga lir, tidak mencolok—namun vital. Kepemimpinan yang membasuh bumi adalah kepemimpinan yang hadir sebagai rahmat, bukan sekadar mandat.
Sayangnya, logika pemilih kita sering masih terjebak pada simbol luar: gaya komunikasi, pencitraan, penampilan publik. Kita jarang bertanya: apakah ia bisa menenangkan luka? Apakah ia mampu meredam dendam? Apakah ia sanggup menahan diri agar tidak terpikat kuasa? Masyarakat butuh merevisi ekspektasi: jangan sekadar meng inginkan pemimpin yang “menang debat,” tapi yang sanggup diam dan mendengarkan rakyatnya.
Baca juga : Bukan Akhir, Tapi Awal
Pemimpin ideal adalah yang mampu mengubah krisis menjadi ruang pertumbuhan. Yang mengerti bahwa mem ba ngun bangsa bukan soal menguasai, tapi mengasihi. Yang sadar bahwa bangsa ini tidak bisa disatukan oleh proyek-proyek besar, tetapi oleh hati-hati kecil yang disapa, didengar, dan dihargai. Yang menjadikan setiap kunjungannya bukan kampanye, tetapi khidmah.
Di tengah ketidakpastian global, perubahan iklim, krisis kepercayaan publik, dan lukaluka batin yang belum pulih, kita membutuhkan bukan sekadar administrator negara, tapi penjaga nurani bangsa. Seseorang yang hadir bukan untuk menjadi pusat perhatian, tapi pusat penyejuk. Yang tidak sibuk menaiki tangga kekuasaan, tapi sibuk menyusun tangga harapan rakyat kecil.
Baca juga : Dari Warga untuk Negara
Mari kita awali perubahan ini dari dalam diri. Jangan lagi menjadikan politik sekadar panggung popularitas. Jadikan ia arena kesadaran dan pengab dian. Mari berharap dan bekerja agar yang naik bukan hanya yang tinggi angka, tapi yang dalam hatinya. Karena yang membasuh bumi bukan petir, tapi hujan yang lembut dan sabar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.