Dark/Light Mode
- Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia
- Inggris Vs Argentina, Duel Mental Juara Menuju Final Piala Dunia 2026
- 3 Pemimpin Dunia Berkunjung Dalam Sepekan, Qodari: Bukti RI Makin Dipercaya
- Pelita Harapan Group Perluas Jaringan Ekosistem Pendidikan Di Bandung
- Purbaya: Rating BBB Dari S&P Buktikan Sentimen Negatif RI Tak Terbukti
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Harga-harga naik menjelang Ramadan, itu biasa. Tapi, tahun ini terasa lebih berat. Tantangannya lebih menarik. Coba tanya ibu-ibu atau siapa pun yang biasa belanja di pasar, mereka pasti seragam menjawab: harga-harga naik.
Kenapa terasa lebih berat? Karena nilai kebutuhan pokok di masa sulit dan pandemi seperti sekarang, bobotnya berbeda.
Baca juga : Jangan Cerminnya Yang Dibelah
Misalnya, yang berpenghasilan UMR, di masa sebelum pandemi masih bisa membeli sembako, sekarang tidak mampu lagi. Karena, di-PHK, atau penghasilannya berkurang, atau karena faktor eksternal: harga-harga tak terjangkau.
Bahkan, kelas menengah pun, yang dulunya tidak memiliki masalah dengan kebutuhan pokok, sekarang banyak yang “turun kelas”.
Baca juga : Naik Gaji, Tekan Korupsi?
Itulah kenapa, pertama, ketersedian bahan pokok sangatlah penting. Kedua, kontrol dan pengendalian harga juga penting.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.