Dark/Light Mode

Nyoman Sukre: Dari Sungai Mati ke Hutan Lestari, Pejuang Kalpataru dari Bali

Rabu, 4 Juni 2025 09:51 WIB

Nyoman Sukre adalah penerima Kalpataru tahun 2019 dalam kategori Penyelamat Lingkungan. Kini, ia kembali diundang dalam acara Kalpataru Lestari, sebuah ajang apresiasi bagi para pejuang lingkungan yang terus menjaga komitmennya.

Perjuangan Pak Nyoman bermula dari keprihatinannya terhadap kampung halamannya sendiri. Ia menyadari betul kondisi wilayah tempat ia dilahirkan yang saat itu sangat memprihatinkan. Tidak ada ruang terbuka hijau, sungainya mati, penuh sampah, dan aliran air pun tak tampak. “Saya lahir di sana. Saya tahu persis kondisi wilayah saya. Tidak ada ruang terbuka hijau, sungainya mati, penuh sampah, dan tak ada aliran air sama sekali. Saya takut sisi itu terlupakan,” kisahnya. Keprihatinan itu mendorongnya untuk bergerak. Ia memulai upaya penyelamatan kawasan dengan memulihkan hutan mangrove dan menghidupkan kembali sungai yang sebelumnya telah mati. “Saya mulai dari menyelamatkan kawasan hutan mangrove dan menghidupkan kembali sungai yang dulu sudah mati,” ujarnya saat ditemui di sela acara Sarasehan Kalpataru yang digelar di Bali, Rabu (4/6/2025).

Dari kerja keras dan ketekunannya itu, Nyoman Sukre dianugerahi penghargaan Kalpataru sebagai Penyelamat Lingkungan. Penghargaan tersebut tak membuatnya berhenti, justru semakin memperbesar tanggung jawabnya dalam menjaga alam. “Saya sekarang menjadi pembina komunitas-komunitas lingkungan di Bali. Apa yang saya lakukan di kampung, saya sebarkan ke kabupaten-kabupaten lain di seluruh Bali,” tuturnya. Ia juga kini aktif sebagai pendamping kehutanan sosial. Dalam perannya itu, ia membina kelompok-kelompok masyarakat agar mampu merawat hutan dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.

Bali saat ini menghadapi tantangan besar dengan laju pembangunan dan komersialisasi yang semakin pesat. Kawasan-kawasan yang dulu asri mulai berubah menjadi area wisata yang padat dan sarat bangunan. “Dulu Bali itu asri, sekarang sudah mulai padat. Banyak kawasan berubah jadi tempat wisata. Ini tantangan bagi kita,” ujarnya. Meski demikian, Nyoman percaya kunci menghadapi situasi ini adalah sinergi. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah mutlak diperlukan agar upaya pelestarian bisa berjalan seimbang dengan pembangunan. “Kita harus terus bersinergi dengan pemerintah. Pemerintah punya peta kawasan, mana yang boleh dibangun, mana yang tidak. Tugas kita adalah menyelamatkan kawasan yang masih bisa diselamatkan,” jelasnya.

Kini, perhatian Nyoman tertuju pada wilayah penyangga air di Bali, seperti Kabupaten Bangli dan Tabanan. Ia menyebutkan bahwa Bali hanya memiliki tiga kabupaten penyangga air yang masih bisa diandalkan. Karena itu, bersama komunitasnya, ia aktif melakukan penghijauan di kawasan-kawasan yang mulai rusak. Pohon-pohon tua yang mati atau hilang ditanam kembali. Bagi Nyoman Sukre, satu pohon berarti satu harapan, dan dari harapan itulah, perjuangannya menjaga alam terus berakar dan tumbuh.

 

Videografer & Editor:

Hendrawan K Wijaya