Sebelumnya
Prof. Bondan juga mengatakan, orang-orang Tionghoa saat itu sudah terlibat dalam kegiatan ekonomi lokal setempat. Mereka menanam padi dan penyulingan arak, di mana keduanya merupakan hal yang sangat diperlukan saat itu dalam perdagangan maritim. Karena saat itu beras digunakan untuk pasokan bahan makanan kapal-kapal yang berlabuh di kota-kota pelabuhan, sedangkan industri arak ini penting sekali bukan untuk digunakan seperti sekarang, tapi arak biasa digunakan oleh pelaut untuk pelayaran jarak-jauh, sebagai cara mengatasi rasa mual di pelayaran jarak jauh.
Industri arak ini juga berkaitan dengan dengan industri gula, karena cara pembuatan arak berkaitan dengan pemasakan air gula dari tebu, yang kemudian disuling, sehingga menghasilkan minuman yang kemudian digunakan untuk kegiatan pelayaran.
Baca juga : Sri Mul Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Membaik
Pada 1619 M, Jayakarta direbut oleh VOC yang kemudian diganti nama menjadi Batavia. Pada tahun pertama pembentukan Batavia, jumlah penduduk Tionghoa hanya berjumlah sekitar 400 orang.
Seiring berjalannya waktu, jumlah mereka terus bertambah dan berfluktuasi, sehingga orang-orang Tionghoa secara konstan menempati posisi tiga besar dari komposisi penduduk di kota Batavia. Data jumlah kependudukan ini dapat diketahui secara persis karena pada saat itu VOC melakukan sensus penduduk setiap tahun dan dicatat dalam arsipnya.
Baca juga : Liga Spanyol: Bantai Sevilla, Real Madrid Kokoh Di Puncak
Sepanjang masa periode VOC, peran penting dimainkan oleh orang-orang Tionghoa, karena mereka bukan hanya menjadi pedagang, namun juga mengusahakan berbagai macam hal yang menghidupkan masyarakat kota, seperti menjadi kuli, pemungut pajak, pekerja bangunan, pandai besi, pengrajin, hingga menjadi pengusaha swasta.
Jadi dapat dikatakan bahwa hampir semua sektor perekonomian saat itu dilakukan oleh orang-orang Tionghoa, yang juga menjadi penghubung antara orang-orang Belanda maupun masyarakat bumiputera (orang Indonesia). Sedangkan orang-orang Tiongha yang tinggal di wilayah sekitar benteng Batavia (Ommelanden) bekerja menjadi pengelola perkebunan tebu, tambak dan perikanan, persawahan, pembuat tembikar, dan lain sebagainya.
Baca juga : Ketua MPR Dorong Peningkatan Investasi Turki di Indonesia
Dalam menjalankan profesinya sebagai produsen dan pedagang, tentu saja orang-orang Tinghoa harus mampu menjaga hubungan baik di antara penjual dan pembeli. Maka bukan hal mengherankan jika mereka mampu menjalin komunikasi dan berhubungan baik dengan semua kalangan, baik orang Eropa maupun pribumi.
Keadaan demikian dapat dikatakan bahwa posisi orang-orang Tionghoa saat itu sebagai middlemen minority, yakni sebagai mediator antara kelompok dominan dan kelompok subordinat. Oleh sebab itu, posisi ini sangat rentan terhadap permusuhan, baik yang muncul dari kelompok dominan, maupun subordinat, sehingga seringkali menjadi kambing hitam alami.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.