RM.id Rakyat Merdeka - Toleransi adalah bahasa universal yang mampu menembus ruang dan waktu. Toleransi dapat menjembatani perbedaan keyakinan yang sebelumnya dianggap sulit untuk diseberangi. Semangat toleransi dalam keberagaman harus bisa terinternalisasi dalam diri anak bangsa sebagai bentuk pengamalan agama yang paripurna.
“Semangat kasih dapat melampaui sekat-sekat budaya dan identitas lainnya. Selama sesama ciptaan Tuhan, terlebih lagi sesama manusia, kita harus bisa saling mengasihi. Semangat kasih itu dapat melampaui bahasa primordial, bahasa politik, serta bahasa khusus dari masing-masing identitas kita,” Sekretaris Eksekutif bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pdt Jimmy Sormin, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (7/12).
Baca juga : Debat Sengit, Saling Potong, Biarkan!
Dia menerangkan, keinginan untuk saling mengasihi bersifat transversal atau mampu menembus berbagai identitas. Juga dapat menjelajah berbagai ruang dan sekat yang ada, yang biasanya terbentuk karena budaya, ekonomi, politik, dan lainnya.
Jimmy melanjutkan, umat manusia diperintahkan untuk tetap merangkul semua, terlepas dari latar belakang ekonomi dan sosialnya. Manusia juga harus menunjukkan keberpihakan dan semangat kasih kepada mereka yang lemah dan diperlakukan diskriminatif, serta dikekang bahkan dikorbankan hak-haknya.
Baca juga : KISP Dukung KPU Gelar Debat Pilpres Dibikin Menggigit
Ia menegaskan, bahwa contoh semacam inilah yang bisa menjadi rujukan bahwa semangat kasih dan toleransi adalah bagian dari sikap bangsa Indonesia untuk berkorban meninggalkan kenyamanan demi menghargai keberagaman yang ada di sekitar.
“Sudah semestinya kita mau menjadikan diri kita memiliki toleransi dan berdamai dengan keadaan sekitar, sekalipun berbeda dengan yang kita yakini. Masyarakat Indonesia harus memahami bahwa mereka perlu membangun serta menjembatani keberagaman yang ada. Melalui semangat saling mengasihi, kita akan mempunyai sikap yang memanusiakan manusia,” jelas Jimmy.
Baca juga : Lanjutkan Transisi Energi, PLN Siap Jalin Kolaborasi di COP 28 Dubai
Jebolah magister Religious and Cultural Studies UGM ini beranggapan, tidak ada satu entitas masyarakat atau negara yang bebas dari masalah dan tantangan. Kelanjutan masa depan bangsa akan sangat bergantung pada bagaimana anak bangsa menyikapi segala rintangan. Melalui perspektif yang membangun serta memanusiakan orang lain, dengan sendirinya bisa mengasihi sesama manusia.
“Bergerak melalui pemahaman itu, kita dapat membangun toleransi dalam hidup bersama. Kita berharap kehadiran dan kontribusi segala elemen bangsa dapat menjadi ‘garam’ (memberi pengaruh baik) dan ‘terang’ (sinar yang menerangi) dan kita betul-betul menjadi keberkahan bagi negeri ini,” pungkas Jimmy.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.