Sebelumnya
Masyarakat adat Dayak Iban Sungai utik sebelumnya telah mendapatkan penghargaan nasional Kalpataru dari Pemerintah Indonesia, dan UNDP Equator Prize pada 2019, atas upaya mereka mempertahankan hutannya dari penebangan liar, perambahan dan konversi lahan oleh perusahaan.
Dalam penganugerahan Gulbenkian Prize for Humanity ke4 di Lisabon, Apai Janggut turut didampingi Kepala Desa Sungai Utik, Raymundus Remang, anggota Komunitas Sungai utik, Joni Manehat dan anggota Friends of Sungai utik, Yani Saloh.
Baca juga : Dibantu Korsel, NPC Indonesia Segera Bangun Pusat Latihan Cabor Disabilitas
“Hutan adalah sumber hidup kami, yang sudah diturunkan leluhur kami sejak dulu. Men jaga hutan adalah bagian budaya kami. Karena di dalam hutan tersebut terdapat ladang kami, tanaman obat, sungai, kuburan keramat leluhur kakek nenek kami yang sudah meninggal yang harus kami jaga. Kami bangga, aksi kami ternyata bermanfaat bagi dunia,” ujar Apai Janggut.
Ketiga pemenang tahun ini ditetapkan para juri yang diketuai Kanselir Jerman periode 2005 2021 Angela Merkel. Para pemenang terpilih selain apai Janggut adalah campaigner dan agronomist dari Kamerun, Cecile Bibiane Ndjebet, dan environmentalist, designer dan scenographer dari Brazil, Lelia Wanick Salgado.
Baca juga : Airlangga Temui Parlemen Dan Komisi Eropa, Selesaikan Urusan Sawit
Dubes Rudy berharap, hadiah yang diterima Apai Janggut dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka cetak edisi Selasa 25 Juli 2023 dengan judul Dubes RI untuk Portugal Rudy Alfonso Bangga Adat Dayak Raih Gulbenkian Prize for Humanity
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.