Sebelumnya
Selama lockdown, Pemerintah Ethiopia juga melakukan pembatasan. Seperti penutupan sekolah. Hingga tempat ibadah. Mulai dari gereja. Hingga masjid.
“Tapi masyarakat patuh. Meski berdasarkan survei, masyarakat Ethiopia salah satu yang paling religius di dunia,” ujar Al.
Baca juga : Supremasi Kulit Putih dan Wabah Corona Jadi Isu Penentu Pilpres AS
Sisi religius itu juga terlihat dalam budaya toleransi masyarakatnya. Ethiopia, kata dia, terdiri dari 53 persen Kristen Orthodoks. Dan 37 persen Muslim. Namun, kata Al, toleransi berjalan dengan baik. Itu juga dirasakannya sendiri.
Seperti saat Idul Fitri lalu. Banyak ucapan dari rekan non Muslim yang disampaikan padanya. “Jadi di sini, kalau ada Hari Raya, masing-masing saling mengucapkan. Saling mengunjungi. Hubungan umat beragama sangat baik,” katanya.
Baca juga : Unisba Blitar Bidik Potensi Investasi Ethiopia dan Afrika
Demokrasi Berkembang
Kemajuan Ethiopia juga terlihat dalam demokrasinya. Sejak pemerintahan dipimpin Perdana Menteri Abi Ahmed Ali pada April 2018, sejumlah tahanan politik dibebaskan. Demikian pula dengan tokoh politik yang diasingkan di luar negeri. Sudah dipulangkan. Demikian pula dalam kebebasan pers.
Baca juga : Dubes Al Busyra Imbau WNI di Ethiopia Waspadai Virus Corona
Sejumlah wartawan yang sempat ditahan pada pemerintahan lalu dibebaskan. “Dan kebebasan pers juga sudah mulai berjalan dengan baik,” ujarnya.[PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.