RM.id Rakyat Merdeka - Polusi udara di Jakarta yang berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara sudah sampai dalam tahap mengkhawatirkan. Di saat polusi berkurang karena ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), batubara justru membuatnya jadi lebih kotor.
Situs berita konservasi dan lingkungan Mongabay menyebutkan, polusi dari pembangkit listrik tenaga batubara di dekat wilayah Jakarta, semakin “mencekik” warga. Dan menjadikan angka harapan hidup warganya berkurang. Dan, Jakarta berkembang sebagai salah satu ibukota paling tercemar di dunia.
Stasiun pemantauan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta, yang melacak tingkat partikel PM 2,5 (partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron) berbahaya di udara, mencatat 172 hari dengan kualitas udara yang tidak sehat pada 2019. Itu berarti kurang lebih sekitar setengah tahun. Naik dari 101 hari pada tahun sebelumnya.
Sebuah laporan LSM Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan, banyaknya pembangkit listrik tenaga batubara di sekitar Jakarta berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara ini.
“Sementara jumlah hari tidak sehat telah meningkat selama bertahun-tahun," kata peneliti CREA Isabella Suarez.
Baca juga : PSBB Jakarta, Ini Perubahan Jam Operasional KRL
Tahun ini, pembatasan mobilitas yang diberlakukan sebagai respons terhadap pandemi Covid-19 telah mengakibatkan penurunan lalu lintas di Jakarta secara drastis. Tapi tetap saja, itu tidak menyebabkan peningkatan kualitas udara secara drastis.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, kualitas udara meningkat 42 persen pada pertengahan April. Dua pekan pertama penerapan PSBB. Tetapi data dari Kedubes AS di Jakarta menunjukkan, konsentrasi PM2,5 sebenarnya meningkat dari akhir Maret hingga awal Juni.
Ini menjadikan Jakarta sebagai kota yang mengalami kenaikan kualitas udara terkecil dibandingkan dengan kota-kota besar di dunia. Di tempat lain, beberapa kota besar mengalami peningkatan kualitas udara secara signifikan.
Sejalan dengan pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19. Masih menurut KLHK, polusi udara di Jakarta tidak hanya datang dari dalam kota. Emisi kendaraan dari dalam dan luar kota menyumbang hingga 80 persen polusi.
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, peneliti CREA menganalisis kualitas udara dan pola angin di Jakarta dan sekitarnya. Provinsi Banten di sebelah barat. Dan Provinsi Jawa Barat di sebelah timur dan selatan. Mereka menemukan, tingkat nitrogen dioksida (NO2) menurun di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat selama PSBB. Jika dibandingkan dengan tingkat 2019. Itu karena ada perlambatan emisi dari sumber utama NO2. Seperti kendaraan dan emisi industri. Namun, mereka juga menemukan bahwa konsentrasi PM2,5 meningkat dari akhir Maret hingga awal Juni.
Baca juga : PSBB Jakarta, BI Pastikan Jadwal Operasional dan Layanan Tetap Jalan
Sejalan dengan data dari stasiun pemantauan Kedubes AS. Itu karena PM2,5 bergerak lebih jauh dari NO2. Dan menunjukkan bahwa polusi lintas batas dari luar kota merupakan faktor tetap tingginya polusi PM2,5.
Para peneliti CREA kemudian melihat lintasan angin pada hari-hari ketika konsentrasi PM2,5 sangat tinggi. Lebih dari 80 mikrogram per meter kubik (μg/m3). Yang sesuai dengan indeks kualitas udara "tidak sehat", antara 2017 dan 2020. Mereka menemukan bahwa angin membawa polutan dari kawasan industri dan pembangkit listrik di Banten dan Jawa Barat.
“Ketika model ini keluar, kami sangat terkejut. Ini menunjukkan hubungan yang jelas antara lintasan angin dan emisi di daerah tertentu,” lanjut Suarez.
Untuk lebih mempersempit sumber pencemaran udara lintas batas di Jakarta, para peneliti memfokuskan pada polutan yang dipancarkan dari pembangkit listrik tenaga batubara. Mereka menemukan bahwa polutan ini bertiup ke kota dari pembangkit yang jauhnya hingga 100 kilometer (Km).
Sumber utamanya adalah kawasan industri Suralaya di Banten. Tempat itu merupakan rumah dari lima Pembangkit Listrik Tenaga Uap bahan bakar batubara.
Baca juga : Lima Bidang Baru Di Partai Gelora Diisi Kaum Hawa
Sebagai PLTU batubara terbesar di Indonesia, juga di ASEAN, PLTU Suralaya mempunyai total kapasitas 3.400 MW.
Suralaya adalah kompleks industri paling berpolusi di Asia Tenggara. Berdasarkan pemantauan satelit dari polutan yang dipancarkan seperti nitrogen oksida (NOx). Laporan CREA menemukan bahwa tingkat PM2,5 lebih tinggi di Jakarta daripada di Banten. Karena angin yang membawa materi partikulat ke timur. Dan dengan pabrik Suralaya yang beroperasi sepanjang tahun, termasuk selama PSBB, kualitas udara di Jakarta tetap buruk.
Dalam laporan disebutkan, konsentrasi pencemaran di wilayah paling utara Banten di mana pabrik Suralaya berada, tetap tinggi secara konsisten. Dan berkontribusi terhadap pencemaran udara di Jakarta. “Dengan dampak tertinggi dari Desember hingga April,” tulis laporan itu.[PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.