Sebelumnya
Demonstrasi antikudeta telah menyebar di seluruh Myanmar sejak kudeta 1 Februari lalu yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Pasukan keamanan membubarkan demonstran dengan melancarkan tembakan hingga menewaskan 55 orang.
Lebih dari 1.700 orang telah ditahan junta pada Sabtu, menurut angka dari kelompok advokasi Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP). Angka itu tidak termasuk untuk penahanan semalam.
Baca juga : Myanmar Dibombardir Sanksi
“Pasukan keamanan memasuki daerah permukiman dan mencoba untuk menangkap pengunjuk rasa lebih lanjut. Mereka menembaki ke arah rumah, menghancurkan banyak (rumah),” kata AAPP dalam sebuah pernyataan.
Para pengunjuk rasa menuntut pembebasan Suu Kyi dan penghormatan pada pemilu November yang dimenangkan partainya, Partai NLD. Tetapi tentara menuding pemilu curang. Junta menegaskan akan mengadakan pemilihan demokratis pada tanggal yang belum ditentukan.
Baca juga : Rekor Dunia, Orang Korea Selatan Paling Ogah Melahirkan
Inginkan Hubungan Baik
Pelobi Israel-Kanada Ari Ben-Menashe, yang dipekerjakan junta Myanmar, mengatakan kepada Reuters, para jenderal ingin meninggalkan politik dan berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat dan menjauhkan diri dari China.
Baca juga : Kecuali Etnis Rohingya, Malaysia Deportasi 1200 Warga Myanmar
Ben-Menashe mengaku, dia juga telah ditugaskan untuk mencari dukungan Arab. Hal ini terkait rencana pemulangan pengungsi Rohingya yang berjumlah ratusan ribu, di antaranya diusir dari Myanmar pada 2017 dalam tindakan keras militer setelah serangan pemberontak. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.