BREAKING NEWS
 

Belajar Dari Pengalaman Suksesi Nabi

Minggu, 6 November 2022 06:25 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebagai konsekuensi tidak adanya peraturan baku tentang suksesi kepemimpinan, maka ketika Nabi wafat, ketegan­gan pun muncul.

Siapa yang akan menggantikan Nabi Muhammad SAW dalam kapasitasnya sebagai pemimpin atau kepala negara di Madinah atau dunia Islam? Di Kota Madinah sendiri ada dua etnis besar yaitu etnis Khazraj dan etnis Aus. Kedua suku ini memilih untuk melakukan pertemuan di Bani Tsaqifah untuk membicarakan siapa yang akan menggantikan posisi Nabi sebagai Kepala Negara Madinah.

Baca juga : Bertoleransi Secara Tulus

Masyarakat Madinah memang kaget. Tidak ada yang menyangka Nabi Muhammad SAW akan wafat begitu ce­pat. Namun karena sebagai manusia biasa, ia wafat persis pada hari, tanggal, dan bulan kelahirannya, yaitu Senin 12 Rabiul Awal tahun 632 M. Ia wafat hari Senin dan baru dikuburkan pada hari Rabu.

Tertundanya pemakaman Nabi selama tiga hari disebabkan karena dua hal. Pertama Umar ibn Khaththab berdiri dengan pedang terhunus di samp­ing Nabi dan mengatakan siapa yang mengatakan Nabi wafat akan aku tebas lehernya, begitu dalam cinta Umar terhadap Nabi.

Baca juga : Memberi Kebebasan Beragama

Ia mengatakan, Nabi hanya pingsan seperti pingsannya Nabi Musa tiga bulan saat menatap sinar Ilahi di Bukit Turisinin. Nabi tidak diizinkan dikuburkan oleh Umar. Penyebab kedua, rumitnya persoalan siapa yang akan menjadi pengganti Nabi sebagai kepala pemerintahan dan sebagai pemimpin spiritual.

Sehari setelah Nabi wafat, berkumpullah sekelompok orang di Balai Pertemuan Bani Sa’adah di Bani Tsaqifah yang diprakarsai oleh suku Khazraj dari masyarakat Madinah (Anshar). Mereka membicarakan suksesi kepe­mimpinan pasca wafatnya Nabi.

Adsense

Baca juga : Batas Kepatuhan Terhadap Pemimpin

Mendapat laporan seperti ini, maka Abu Bakar bersama Umar bin Khattab dan Abu Ubadah dari kelompok Muhajirin (pengungsi dari Mekkah) menuju ke tempat itu. Di sana sudah ada kelompok suku Khazraj dan suku ’Aus.

Di dalam pertemuan yang cukup alot itu, kelompok Anshar mengajukan Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin baru. Akan tetapi Umar menyela di dalam pertemuan itu dan meminta agar pengganti Nabi Muhammad ialah Abu Bakar dengan pertimbangan, Rasulullah pernah bersabda: al-Aimmah min Quraisy (Pera pemimpin itu dari kalangan Quraisy).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense