Sebelumnya
Presiden SBY awalnya diam, tidak memberikan reaksi apa pun. Ia baru buka suara tatkala ada acara bersama TNI-Polri di CIlangkap.
Ia minta rakyat kita tenang, tidak emosional menghadapi situasi ini. SBY minta kita berikhtiar apa yang terjadi jika perang dengan Malaysia pecah? Tahukah Anda berapa biaya yang harus dikeluarkan jika perang pecah? Bagaimana dengan nasib ribuan TKI yang bekerja di Malaysia? Berapa devisa yang hilang dari TKI itu jika perang pecah? Orasi Presiden SBY seperti itu, oleh berbagai kalangan, diartikan SBY sebagai sosok yang pengecut!
Pemimpin kita memang beragam dalam hal konteks komunikasi. Soekarno jelas sangat low context, ia bicara blak-blakan, berani hantam sana hantam sini. “Go to hell with your aids!” persetan dengan bantuan Anda. Mulai hari ini, Indonesia menyatakan keluar dari PBB!
Baca juga : Demokrasi Terpimpin Ke Demokrasi Rakyat?
Soeharto berlawanan dengan Bung Karno dalam konteks komunikasi: konteks pernyataan-pernyataan Pak Harto umumnya tinggi; ia lebih menampilkan banyak senyum, meski kadang juga keras dan blak-blakan. Rudini (alm) bercerita pada saya: hati Pak Harto sedang gembira jika ia mengepulkan asap ke atas dari cerutunya. SBY dan Bu Mega biasanya berkonteks tinggi juga.
Bagaimana dengan Presiden Joklowi? Umumnya, Jokowi berkomunikasi dengan konteks tinggi juga, lebih banyak senyum daripada narasi yang tegas, apalagi keras. Jokowi misalnya diam-diam jengkel dan marah melihat satu per satu tentara kita gugur diberondong oleh teroris KKB di Papua. Belum lama berselang, ia berkunjung ke Papua dan mengumpulkan para petinggi TNI dan Polri. Minta mereka cerita apa sesungguhnya yang terjadi di Papua akhir-akhir ini. Jokowi mendengarkan narasi para petinggi TNI dengan wajah sangat serius. Pada akhirnya, apa tanggapan Presiden kita? Inilah kata-kata yang keluar dari mulut Jokowi: “Saya masih tidak jelas dengan aapa yang saudara-saudara kemukakan!”
Baca juga : Mungkinkah Anies Kesulitan Dapat Tiket Capres?
Kalimat itu, menurut ilmu komunikasi, mengandung arti: Anda ini paham tidak sih dengan situasi riil di Papua yang membawa buntut sudah sekian puluh pasukan kita tewas mengenaskan di tangan anasir-anasir KKB?!
Dalam konteks pilpres yang makin dekat, Jokowi aktif sekali mengumpulkan dan diskusi dengan sejumlah ketua partai politik. Beberapa ex presiden dan wakil presiden, serta sejumlah pengamat politik dan akademisi menuding Jokowi melakukan cawe-cawe untuk menentukan siapa yang layak menggantikan dirinya setelah ia pensiun pada 2024. Jokowi menolak tudingan ini dan berdalih sebagai presiden, ia betugas di pemerintahan, tapi juga menjalankan tugas politik. Pilihannya tentang penggantinya, hampir dipastikan 2 orang: Prabowo dan Ganjar. Siapa diantara dua capres yang akhirnya ia tunjuk? Tidak mudah bagi Jokowi, sebab sebagai kader PDIP (ya, jangan lupa, Jokowi sampai sekarang tetap kader PDIP), ia harus berprinsip tegak lurus: memilih Ganjar yang sudah ditunjuk resmi oleh KetuaUmum PDIP. Tapi, sebagai pribadi, menurut hati nuraninya? Jokowi terkesan lebih suka Ganjar.
Baca juga : Nasib Prabowo Setelah Ganjar Capres PDIP
Lambat atau cepat, Jokowi harus tinggalkan komunikasi konteks tingkat tinggi dalam hal ini: ia harus bicara tegas pilih siapa (low context), tidak ada pilihan lain; kecuali ia siap “bersitegang” dengan Ibu Megawati Soekanoputri, Ketua Umum PDIP. Sebab jika diduetkan, Prabowo capres dan Gand jar cawapres, hampir mustahil.■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.