Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Para bakal calon presiden diberi kesempatan untuk memaparkan konsep kota masa depan dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakenas) XVI Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia di Makassar, pekan lalu. Namun paparan ketiga bacalon masih normatif dan cenderung minim inovasi mengenai konsep smart city.
Panggung yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai ajang pemanasan adu gagasan, justru kurang greget. Isu-isu lingkungan seperti Karbon Kredit dan Ekonomi Hijau tidak dibahas secara menyeluruh. Peranan sebuah kota sebagai buffer dan penyangga ekonomi global terlewati.
“Padahal kita sudah memasuki era global warming, Mo,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar hanya mesem tidak serta-merta mau menanggapi komentar anaknya Petruk.
Baca juga : Kehebatan Rumput Kalanjana
Semar sedang galau dengan masih tingginya harga-harga sembako di pasar. Padahal hari raya sudah lewat. Seperti biasa kopi pahit dan ubi rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Suasana padepokan Klampis Ireng pagi ini terlihat cerah dan semringah.
Apalagi semalam habis diguyur hujan salah mongso. Bau tanah basah masih tercium aromanya. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Mahabarata. Di mana, Begawan Abiyasa menyiapkan penerus kepemimpinan Hastina.
Kocap kacarito, Abiyasa atau Prabu Kresna Dipayana menyiapkan penerus tahta Kerajaan Hastina sebelum dirinya lengser keprabon. Menurut aturan, anak tertua yakni Drestarastra berhak sebagai raja Hastina. Namun, Drestarastra memiliki cacat bawaan yakni cacat netra, tidak dapat melihat kehidupan dunia.
Baca juga : Bisikan Salya Jelang Baratayuda
Anak kedua yakni Pandu Dewanata sakti mandraguna namun ada sedikit kekurangan. Badannya tidak tegap cenderung membungkuk dan tengeng. Kondisi Pandu dapat mengganggu dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai seorang raja.
Sedangkan Yamawidura merupakan anak ragil Begawan Abiyasa. Yamawidura tidak sempurna. Walaupun parasnya tampan, namun ada cacat kaki. Kalau berjalan sedikit pincang. Kekurangan ini selain menjadi bahan olok-olokkan juga akan mengganggu kenyamanan dalam menjalankan tugas kerajaan.
Abiyasa bimbang dan limbo dalam membuat keputusan, siapa penerus kerajaan yang akan dipilihnya kelak. Dalam kegamangan tersebut, Abiyasa memilih anak keduanya yakni Pandu sebagai pewaris tahta kerajaan. Dengan diangkatnya Pandu sebagai raja Hastina, kelak sebagai pemicu terjadinya perang Baratayuda. Yaitu perang saudara antar darah Barata. Karena keturunan Drestarastra tidak dapat menerima keputusan Abiyasa tersebut.
Baca juga : Rasisme Sayembara Mandura
“Yang namanya rebutan kekuasaan sudah ada sejak dulu, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Semua orang rumongso biso tapi ora biso rumongso. Merasa paling bisa untuk menjadi penguasa atau pemimpin,” jawab Semar pendek.
“Padahal untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Pemimpin selain amanah, jujur, dan merakyat juga butuh keteladanan sebagai pegangan rakyat yang akan dipimpinnya. Dan yang tidak kalah penting, untuk menjadi ratu atau penguasa tergantung takdir dan wahyu ratu yang ada pada dirinya,” jawab Romo Semar sambil ngloyor. Oye.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.