Sebelumnya
Sekarang ini setiap tahun penerimaan calon perwira cenderung tetap. Maka, membuahkan “produksi perwira” yang terus bertambah banyak. 20- 25 tahun yang silam, penerimaan untuk AD, AL, AU dan Polri hanya 200 orang. Ketika mereka sampai di pucuk pimpinan, semuanya praktis mendapat job.
Tapi, selama 15 tahun terakhir, pokoknya terus diterima. Perlu dilakukan moratorium tambahan perwira, usul teman saya yang pensiunan bintang 2. Kalau dari sekarang tidak dihitung ulang, maka akan semakin banyak Kolonel dan perwira tinggi yang nganggur.
Kebijakan memperpanjang usia pensiun bagi perwira dari 55 menjadi 58 tahun, jelas, faktor juga yang melahirkan kian banyaknya Kolonel dan Pati non-job.
Baca juga : Status Hukum “Indonesia Barokah”
Memperpanjang usia pensiun bagi Pati sama juga membuka ruang tambahan bagi dinas aktif Pati, sedang job yang tersedia tetap terbatas.
Kalau pun ada penambahan, hanya sedikit jumlahnya. Faktor lain: untuk sekolah dan kenaikan pangkat, pimpinan kurang selektif. Akibatnya, perwira yang sudah lulus sekolah menuntut pangkat, dan kalau sudah naik pangkat, mereka menuntut naik jabatan.
Kenaikan pangkat dan jabatan seyogianya mengikuti saringan yang ketat, tidak boleh dipengaruhi oleh unsur like-and-dislike serta faktor Angkatan (lichting).
Baca juga : Pelajaran Dari Kasus Baasyir
Solusinya bagaimana? Kalau sudah tahu hasil diagnosanya, ya obati saja sumber penyakit tersebut. Yang jelas, menaikkan pangkat pada job struktural bukan solusi yang profesional.
Misalnya, untuk jabatan Korem yang biasanya berpangkat Kolonel, dinaikkan jadi Brigjen. Untuk Kepala Rumah Sakit kelas II yang biasanya Kolonel, didongkrak jadi Brigjen. Yang lebih “revolusioner” lagi ada wacana menaikkan pangkat Direktur RSPAD dari Mayor Jenderal jadi Letnan Jenderal.
Kepala Pusat Kesehatan AD dan TNI sama-sama dinaikkan pangkatnya jadi Letnan Jenderal TNI. Padahal mereka semua dokter, dan aslinya sipil. Mereka cuma sipil yang jadi militer setelah mengikuti pendidikan Wamil selama kurang setahun.
Baca juga : Tanda-tanda Main Kotor Dalam Pemilu
Mayjen Kesehatan, Letnan Jenderal Kesehatan, apa tidak membuat jengkel dan “terhina” Mayjen dan Letnan Jenderal Armed, Kaveleri, Kopassus, Marinir yang dengan keringat dan darah untuk meraih tambahan setiap bintang?! Tolong dipikirkan dan dikaji lagi Bapak Panglima TNI!
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.