RM.id Rakyat Merdeka - Aksi demonstrasi yang dilakukan sejak pekan lalu selalu berakhir rusuh. Massa melempari aparat dengan batu, melakukan perusakan fasilitas umum, memblokir jalan, dan lain-lain.
Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu. Banyak pihak merasa dirugikan. Banyak orang pun jadi muak dengan aksi ini.
Kemarin, ribuan massa kembali menggelar aksi di sekitar Gedung DPR. Ada mahasiswa, pelajar, buruh, tukang ojek, ada juga massa tanpa atribut. Mereka mulai memadati area sekitar DPR sekitar pukul 13.00 WIB.
Awalnya, aksi berjalan normal. Secara bergiliran, orator dari berbagai simpul massa menyampaikan pendapatnya melalui pengeras suara. Sebagian besar tuntutan mereka sebenarnya sudah dipenuhi DPR. Seperti RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, dan RUU Minerba, semuanya sudah ditunda. Tapi, mereka tetap menyuarakan itu sebagai isu aksi.
Menjelang sore, kericuhan mulai meletus. Terjadi di beberapa titik. Antara lain saat sekelompok massa yang datang dari arah Pancoran menuju arah Slipi, sekitar pukul 16.30 WIB.
Baca juga : Perjalanan KRL Tanah Abang-Kebayoran dan Sebaliknya Dibatalkan
Mereka memperkeruh keadaan dengan melempari batu ke arah Markas Polda Metro Jaya. Massa ini berseragam pelajar.
Pukul 16.38 WIB, massa di depan Gedung DPR melemparkan botol plastik berisi air dan batu ke arah polisi. Bentrok juga terjadi di sekitar Palmerah. Tepatnya di Jalan Tentara Pelajar, Jalan Gelora, dan dekat perlintasan kereta api Stasiun Palmerah.
Beberapa kali peringatan polisi dan imbauan untuk meninggalkan lokasi tidak dihiraukan. Melihat kondisi ini, polisi pun menembakan gas air mata. Polisi juga menyemprot air dengan water cannon. Hingga massa terpencar ke beberapa tempat.
Akibat kerusuhan ini, perjalanan kereta dari arah Tanah Abang ke Palmerah dan sebaliknya dihentikan sejak pukul 16.40 WIB. Sejumlah rute perjalanan menuju Tanah Abang, hanya sampai Stasiun Kebayoran.
“Dampak adanya kerumunan aksi di Stasiun Palmerah. Bagi penum pang yang terburu-buru agar dapat meng - gunakan moda transportasi lain, dan #RekanCommuters yang ingin memba- talkan perjalanan dapat dilakukan di loket stasiun,” cuit akun @CommuterLine.
Baca juga : Bubarkan Massa, Polisi Turunkan 5 Barracuda dan 1 Water Canon
Hingga tadi malam, belum ada kepastian kapan rute KRL yang ditutup akibat kerusuhan aksi massa di Gedung DPR bisa normal kembali.
VP Public Relations PT KAI, Edy Kuswoyo, saat dikonfirmasi, juga belum bisa menyebutkan secara pasti. “Semuanya bertahap,” katanya singkat, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
Aksi massa juga mengganggu pengguna jalan. Arus lalu lintas jalan tol di depan Gedung DPR lumpuh setelah diterobos peserta aksi.
Massa memaksa masuk ke jalur tol karena akses ke Gedung DPR sudah ditutup dengan barikade kawat berduri yang sudah dipasang hingga sekitar 1 kilometer. Polisi berulangkali memberi peringatan. Agar mereka tidak memblokade jalan tol.
“Kalau tidak nurut, berarti ada provokator di sana,” kata petugas lewat pengeras suara. Di depan Gedung DPR, massa terlihat beringas. Mereka menyerang kendaraan Brimob dengan batu dan botol minuman. Massa yang terlibat bentrok dengan polisi ini sebagian besar tak dilengkapi atribut atau seragam apa pun.
Baca juga : Demo Ricuh di Depan Gedung DPR, Stasiun Palmerah Ditutup Sementara
Justru mahasiswa berjaket almamater beserta ojek online berusaha menahan emosi massa. Mereka berusaha menahan serangan massa ini. “Jangan lempar woy. Kasihan warga, kasihan wartawan, stop!,” teriak mereka, mencoba meredakan situasi.
Sayangnya, mereka kalah jumlah. Massa juga sudah terlanjur rusuh dengan aparat kepolisian. Setelah dipukul mundur polisi, massa melebar ke mana-mana. Mereka membuat kerusakan di sejumlah lokasi. Antara lain membakar mobil di parpikiran Polsek Tanah Abang, merusak Pospol di depan Kampus Atma Jaya, membakar pembatas jalan di depan Gedung LIPI, dan yang lainnya.
Perwakilan BEM Universitas Trisakti Jakarta, Edmund Seko, menyayangkan kerusuhan ini. Dia mengatakan, sudah banyak keluhan dari masyarakat akibat aksi unjuk rasa yang berlangsung rusuh. "Kita tidak bisa menyalahkan polisi ju-ga,” katanya kepada Rakyat Merdeka.
Sepanjang hari hingga malamnya, sejumlah warga menumpahkan kekesalannya di linimasa. Mereka merasa dirugikan oleh aksi tersebut.
Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, salah satunya. “Maaf buat demonstran yang sampai malam ini masih beraksi, output kalian lebih cocok dibuang ke tong sampah... Kalian bukan kembang, tapi hama demokrasi...,” tulisnya di akun Twitter @yunartowijaya. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.