Sebelumnya
Obon menambahkan, selain banyaknya generasi muda yang menganggur, situasi ketenagakerjaan di Indonesia juga diwarnai dengan maraknya PHK. Pada awal 2024, banyak PHK di berbagai perusahaan, sebagian besar dari perusahaan manufaktur.
“Situasi menjadi semakin sulit, karena warga yang terkena PHK sulit mendapat pekerjaan baru. Saat ini, ada Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), jaminan sosial berupa uang tunai, informasi pasar kerja dan pelatihan untuk pekerja atau buruh yang mengalami PHK, tapi pelaksanaannya belum maksimal,” jelasnya.
Di media sosial X, netizen juga mengeluhkan susahnya mencari pekerjaan. Akun @cuanforever menyatakan, angka pengangguran harusnya bisa ditekan dengan cara-cara antisipatif.
“Tiap tahun, jumlah pertumbuhan pencari kerja lebih besar dibanding pertumbuhan lapangan kerja yang tersedia. Sementara, investor asing enggan masuk, dan kurangnya entrepreneur baru. Lapangan kerja lambat bertambah, dan pengangguran semakin tinggi,” tulisnya.
Baca juga : KIM Ancang-ancang Jalan Bareng Lagi Di Banten
Akun @Rziwang menuturkan, banyaknya pengangguran disebabkan persyaratan lowongan kerja yang susah dipenuhi. Mulai dari tingkat pendidikan, pengalaman, hingga beban kerja.
“Mana ada batasan usia pula. Di luar negeri setua apapun asal masih produktif masih dipake tuh. Di sini semuanya minta yang penampilan menarik, masih muda, dan single,” sebutnya.
Sementara, akun @kngmj menilai, tingginya angka pengangguran Gen-Z lantaran banyak yang tidak memiliki ijazah sarjana.
“Faktanya, lulusan SMK menjadi penyumbang pengangguran tertinggi. Sebab, kompetensi mereka tidak sesuai kebutuhan industri. Makanya, banyak yang berjuang untuk kuliah S1, mengejar peluang kerja yang lebih luas,” cuitnya.
Baca juga : Kampus Kok Berbisnis Sama Mahasiswanya
Namun, akun @adie_rew berpendapat, ijazah sarjana tidak menjamin mudah mendapatkan pekerjaan.
“Mau sarjana atau yang belum lulus, hanya mengundur status pengangguran. Saat ini, pendidikan tidak lagi bisa menjanjikan masa depan. Banyak yang berpendidikan tinggi, tapi tidak memperoleh pekerjaan. Gelar sarjana hanya masalah status sosial, tanda orang itu pernah kuliah,” sentilnya.
Akun @rafindomie menerangkan, adanya lingkaran setan yang mengakibatkan angka pengangguran susah berkurang.
“Biaya kuliah semakin mahal, kuliah makin susah, angka pengangguran meningkat, lantas pemasukan negara dari pajak penghasilan menurun. Nanti Pemerintah bingung dengan kebijakannya sendiri,” urainya.
Baca juga : 10 Ribu Puskesmas Terakses Internet
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Senin, 20 Mei 2024 dengan judul Ada 9,9 Juta Gen-Z Nganggur, Pembukaan Lapangan Kerja Harus Dikebut
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.