BREAKING NEWS
 

Peringatan Bawaslu

Hati-hati, AI Bisa Jadi Ancaman Pemilu 2029

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : ABDUL SHOMAD
Rabu, 29 Juli 2026 06:50 WIB
Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Puadi. (Foto: Dok. Bawaslu)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi tantangan baru demokrasi di Indonesia. Pengawasan pemilu harus mampu beradaptasi dengan dinamika ruang digital yang semakin kompleks.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Puadi mengatakan, kemajuan teknologi digital memudahkan masyarakat memperoleh informasi, menyampaikan aspirasi politik, hingga berpartisipasi dalam proses demokrasi. Namun, di balik manfaat tersebut, ruang digital juga menghadirkan beragam ancaman. 

"Yaitu, berupa hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, manipulasi informasi, hingga pemanfaatan AI untuk menghasilkan konten yang sulit dibedakan dengan kenyataan," ujar Puadi di kegiatan Bawaslu Campus Connect bertema Generasi Digital, Demokrasi Transparan di Universitas Nasional (Unas), Jakarta, Selasa (28/7/2026). 

Puadi mengatakan, pengawasan pemilu tidak lagi cukup dilakukan hanya di lapangan, tetapi juga harus mampu menjangkau ruang digital yang semakin kompleks dan dinamis. Bawaslu harus terus melakukan transformasi kelembagaan melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. 

"Berbagai sistem informasi dan layanan digital harus dikembangkan untuk memperkuat fungsi pencegahan, pengawasan, penanganan pelanggaran, penyelesaian sengketa, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat," ujarnya. 

Baca juga : Golkar Kalteng Minta Kader Kedepankan Musyawarah

Dia berharap, transformasi digital dapat mewujudkan pengawasan pemilu yang profesional, transparan, akuntabel, dan berbasis data. Karena itu, dia mengajak perguruan tinggi dan generasi muda terlibat aktif membangun demokrasi yang sehat dan berintegritas. 

"Melalui program Bawaslu Campus Connect, Bawaslu ingin membangun ruang kolaborasi dengan dunia akademik, tidak hanya sebagai forum sosialisasi, tetapi juga sebagai wadah dialog, riset, inovasi, serta pengembangan berbagai solusi untuk memperkuat kualitas demokrasi Indonesia," katanya. 

Puadi juga mengajak mahasiswa menjadi agen literasi digital, pengawas partisipatif, sekaligus calon pemimpin yang mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. 

Adsense

"Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan kualitas demokrasi tetaplah manusia yang menggunakannya, integritas yang menjaganya, serta partisipasi masyarakat yang mengawalnya," tegasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional, Aos Yuli Firdaus mengajak mahasiswa memanfaatkan forum tersebut untuk memperluas wawasan mengenai demokrasi, etika digital, dan pengawasan partisipatif. 

Baca juga : Transformasi BUMN Berbuah Manis, Laba Pupuk Indonesia Melonjak 253 Persen

"Semakin baik pemahaman kita terhadap demokrasi, etika digital, serta pengawasan partisipatif, semakin besar pula kontribusi yang dapat kita berikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya. 

Aos berharap, kolaborasi antara Bawaslu dan Universitas Nasional terus diperkuat melalui program akademik, penelitian, hingga kegiatan edukasi yang melibatkan mahasiswa. 

"Kami optimistis kampus dapat terus berkontribusi dalam melahirkan generasi yang cakap secara digital, kritis dalam berpikir, serta memiliki komitmen menjaga demokrasi yang transparan dan berintegritas," katanya. 

Sementara itu, Anggota Komisi II DPR Muhammad Khozin mengatakan, penyelenggaraan Pemilu 2029 membutuhkan regulasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital, termasuk pengaturan mengenai AI. 

Politisi PKB itu mengingatkan, data terbaru KPU menunjukkan mayoritas pemilih pada Pemilu 2029 berasal dari kalangan milenial dan Generasi Z. Kondisi tersebut membuat ruang digital diprediksi menjadi arena utama pertarungan politik. 

Baca juga : Musim Kemarau Diprediksi Lebih Kering, Pram Ingatkan Warga Waspada Kebakaran

"Mayoritas pemilih berasal dari kalangan muda yang sehari­-harinya bersama digital. Medan tempur Pemilu 2029 akan terjadi di ruang digital. Ini harus dibaca secara kritis oleh seluruh pemangku kepentingan," kata Khozin. 

Berdasarkan data KPU, jumlah pemilih pada Pemilu 2029 mencapai 214,3 juta orang. Generasi milenial mendominasi dengan porsi 32,13 persen, disusul Generasi Z sebesar 24,56 persen. Artinya, lebih dari separuh pemilih merupakan kelompok usia muda yang sangat akrab dengan ekosistem digital. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense