Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Stok rudal pertahanan udara Amerika Serikat (AS) mulai menipis.
Berdasarkan laporan The Guardian, Minggu (26/7/2026), serangan AS ke Iran telah berhenti selama dua hari berturut-turut. Sejumlah pejabat militer senior dilaporkan menyarankan Trump menghentikan operasi militer dan mengedepankan jalur diplomasi guna mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Trump disebut menyetujui langkah tersebut setelah menggelar pertemuan dengan penasihat utama dan anggota senior kabinetnya. Keputusan itu sekaligus membuka peluang dimulainya kembali pembicaraan dengan Iran.
Sementara itu, NBC News melaporkan penghentian serangan berkaitan dengan menipisnya persediaan rudal pencegat Patriot dan amunisi pertahanan udara lain milik AS di kawasan Timur Tengah.
Baca juga : KPK Ungkap Korupsi Di Pemkot Bengkulu
Dua pejabat senior AS mengatakan, komandan militer bahkan mengizinkan sebagian rudal dan pesawat nirawak Iran menembus sistem pertahanan udara demi menghemat stok amunisi yang tersisa.
Laporan serupa juga disampaikan Axios. Media tersebut mengungkapkan Komandan Tertinggi Militer AS di Timur Tengah, Laksamana Bradley Cooper, telah memberi tahu Trump bahwa efektivitas kampanye militer AS mulai mencapai batasnya.
Adapun The New York Times dan CNN melaporkan Trump membatalkan rencana memperluas operasi militer terhadap Iran. Dalam laporan itu disebutkan Kepala Staf Pentagon Dan Caine telah memperingatkan Gedung Putih mengenai menipisnya persediaan rudal pertahanan yang juga dibutuhkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan.
Meski demikian, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz membantah laporan mengenai menipisnya stok amunisi militer AS. Dalam wawancara dengan NBC News, ia meminta publik tidak langsung mempercayai informasi tersebut. “Pihak yang menyebarkan informasi itu seharusnya dipenjara,” kata Waltz.
Baca juga : Sinergi Lintas Elemen, 5 Tokoh Parpol Manggung Di Kongres Umat Islam Indonesia
Namun, Waltz mengakui Trump memang membuka ruang bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. “Dia memberi ruang untuk pembicaraan, dia memberi sedikit kelonggaran,” ujarnya seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan sedang mempertimbangkan serangan yang lebih besar terhadap Iran dibandingkan operasi sebelumnya. Ia menyebut seluruh opsi militer telah disiapkan, termasuk kemungkinan keterlibatan Israel, meski belum mengambil keputusan final.
Di pihak lain, Iran juga menghentikan serangan balasannya setelah AS menghentikan operasi udara. Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan, strategi Teheran bersifat balasan sehingga operasi juga dihentikan ketika serangan AS berhenti.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, komunikasi dengan Washington masih berlangsung, tetapi belum memasuki tahap negosiasi formal. Menurutnya, prioritas pemerintah Iran saat ini adalah menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan keamanan rakyatnya.
Baca juga : Mulyadi Bertekad Kembalikan Kejayaan Partai Di Pemilu 2029
Iran juga menegaskan, tidak akan membiarkan Selat Hormuz dimanfaatkan untuk mengancam keamanan nasionalnya. Teheran menuding AS dan Israel menjadi pihak yang memperburuk situasi keamanan di kawasan.
Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebi menuduh, Israel terus mendorong AS melanjutkan perang melalui informasi yang menyesatkan. Ia juga memperingatkan pangkalan udara Inggris dapat menjadi sasaran apabila terus mendukung operasi pesawat pengebom B1 milik AS.
Selama 13 hari berturut-turut, AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Iran yang menyasar berbagai infrastruktur. Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah target strategis, termasuk pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Meredanya ketegangan kedua negara langsung direspons pasar energi global. Pada perdagangan Senin (27/7/2026), harga minyak mentah Brent turun 5,05 persen menjadi 91,89 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 5,23 persen menjadi 84,64 dolar AS per barel. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya