Sebelumnya
Kempat, ketika berkunjung ke Australia baru-baru ini, Presiden Jokowi antara lain Canberra, didampingi Chief Minister/Gubernur. Jokowi terkesima dengan pemandangan Canberra dan penjelasan dari Chief Minister.
Tanpa mendalami sejarah pembangunan Canberra, Jokowi spontan menyatakan Ibukota Indonesia yang baru nanti bisa dibangun mirip-mirip Canberra. Dan Chief Minister Canberra menyatakan kesiapannya membantu.
Jokowi mungkin lupa, Canberra sudah dipersiapkan sebelum Federasi Australia terbentuk tahun 1911, dan dibangun secara bertahap dalam tempo yang cukup lama.
Baca juga : Impian Insan Bahari Kembali Pupus
Satu hal yang tidak boleh dilupakan penunjukan Canberra sebagai ibukota Australia adalah untuk menengahi persaingan antara dua kota besar, yakni Sydney dan Melbourne, sebagai ibukota Australia di masa depan.
Canberra yang terletak di antara kedua negara bagian itu, akhirnya, ditetapkan untuk dibangun sebagai ibukota.
Kelima, aspek lingkungan. Prof. Emil Salim pernah menyoroti aspek lingkungan Ibukota baru. Apa sudah dikaji secara serius dan matang segala aspek lingkungan terkait lokasi Ibukota baru?
Baca juga : Putus Karena Jarak
Diam-diam sebagian rupanya sudah dibuat oleh Bappenas. Lagi-lagi, secara diam-diam seolah masyarakat tidak perlu diberitahukan dulu.
Keenam, aspek kesiapan Aparatur Sipil Negara (ASN). Memindahkan 3 juta pegawai negeri dan keluarganya ke Ibukota baru bukan urusan sepele.
Sempat diindikasikan bahwa, ASN yang tidak bersedia dipindahkan dapat mengundurkan diri. Bagaimana adaptasi mereka dengan pegawai negeri yang direkrut di kawasan Ibukota baru?
Baca juga : Impor Gula Sudah Dibuka Harga Kenapa Tetap Mahal
Bagaimana juga nasib pendidikan anak-anak mereka? Apakah kualitas SD, SLTP dan SLTA di sana setara dengan sekolah-sekolah di Jakarta yang mereka nikmati? Bagaimana pula dengan pendidikan S1? Kalau segera dibangun universitas dan perguruan tinggi baru di sana, bagaimana dengan tenaga pengajarnya?
Keenam, aspek sosial-budaya. Kemungkinan terjadi benturan sosial-budaya antara masyarakat asli dan pendatang (dari Jakarta) bukan hal yang mengada-ada.
"Kearifan lokal yang ada di Kalimantan Timur harus bisa dilestarikan, jangan sampai jadi benturan. Ketika ada pembangunan, ada pendatang lokal dan pendatang dari luar negeri yang dibawa investor asing. Benturan dan konflik dengan masyarakat asli bisa saja terjadi,“ kata seorang Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah beberapa waktu yang lalu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.