Sebelumnya
Secara psikis, orang tak terkalahkan selalu ingin maju, mencoba, menang dan terus menang. Yang bisa menghentikannya hanya dirinya sendiri. Apalagi kalau semuanya sudah tunduk padanya. Hanya dirinya sendiri yang bisa memutuskan.
Legenda hidup tinju dunia, Floyd Mayweather Jr contohnya. Sepanjang kariernya, dia mengoleksi 15 gelar juara dunia tinju di empat kelas berbeda. Pencapaian yang luar biasa. Rekor petinju yang sekarang berusia 45 tahun ini, tak pernah cacat. 50 kali bertarung, semua dimenangkannya.
Baca juga : Ukraina Sampai Tom And Jerry
Walau masih punya kemampuan, pada 2017 dia memutuskan pensiun. “Tinju tidak akan membuat saya pensiun. Saya yang akan memutuskan pensiun dari tinju. Saya bisa membuat pilihan kapan harus pensiun. Kebanyakan petinju tak bisa melakukan itu,” katanya.
Putin sekarang bisa diibaratkan seperti Mayweather di masa keemasannya. Dia semakin bergairah karena negara-negara Barat sedang menurun. Terutama di bidang militer.
Baca juga : KPK Jangan Mudah Di-jab
Perasaan jumawa dan “pemenang” inilah yang mengantarkannya masuk ke wilayah Ukraina. Sama jumawanya seperti Amerika Serikat ketika menginvasi Iraq atau Afghanistan.
Sikap jumawa dan “selalu menang” itu bisa melahirkan sikap “bodo amat” atau “semau gue”. Apalagi tak ada yang bisa mengimbangi atau mengontrolnya.
Baca juga : Boris Johnson Digoyang ABBA
Dalam tatanan internasional, atau dalam sistem demokrasi, sikap Putin sekarang, atau Amerika Serikat beberapa tahun lalu, bisa sangat berbahaya. Karena, ibaratnya, dia bisa setiap saat berseru, “pokoknya saya mau ambil sebagian wilayah negara itu. Sekarang juga!”.
Semua bertepuk tangan. Demokrasi mati. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.