Sebelumnya
Ibaratnya, kalau plusnya lima dan minusnya juga lima, apalagi kalau minusnya enam atau tujuh, buat apa? “rugi dong kita…!”.
Yang menyedihkan, kondisi ini bukan hadir tiba-tiba. Pelan-pelan tapi pasti. Sedikit demi sedikit lama jadi bukit. Tanpa ada refleksi signifikan.
Bahkan, tampaknya, dalam skala tertentu, bukan daya tarik Orde Baru yang menguat, tapi daya tolak Reformasi yang melemah. Reformasi yang awalnya “seksi” seperti melunturkan dan menjelekkan dirinya sendiri. Siapa yang membuatnya melemah? Hampir semua. Nyaris “kita” semua.
Baca juga : Isu-isu Panas Di Ujung Februari
Belasan tahun lalu misalnya, sudah muncul meme Pak Harto dengan wajah tersenyum sambil “berucap”, “piye kabare, enak zamanku toh…!”.
“Sindiran” Pak Harto itu muncul sudah cukup lama. Ini menjadi alarm bahwa benih kekecewaan mulai tumbuh dan bertunas.
Dengan kondisi tersebut, bukannya membendung atau meluruskan arah, tapi justru berputar balik, misalnya lewat revisi UU KPK yang dianggap sangat melemahkan lembaga anti korupsi. Ini menjadi semacam “pupuk kekecewaan”.
Baca juga : Beras, Cabe dan Politik
Sekarang, rakyat sudah menyoblos dan memilih. Hasilnya perlahan mulai tergambar utuh. Itulah pilihan rakyat. Harus dihormati.
Kalau menjelang pemilihan ada rakyat yang berharap munculnya “serangan fajar” atau bantuan beras, itulah cerminan kebutuhan rakyat. Tapi, apakah harus mengimpor, menambah utang dan lain sebagainya? Nah, itu dia masalahnya! Karena masing-masing orang punya standar “seksi” masing-masing.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, edisi Minggu, 03 Maret 2024 dengan judul "Mana Yang Lebih “Seksi”?"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.