Dark/Light Mode

Stok Berlimpah, Kenapa Harga Beras Masih Tinggi?

Ali Mahsun Atmo: Kami Desak Evaluasi Total Anomali Harga

Minggu, 31 Agustus 2025 07:15 WIB
Ali Mahsun Atmo, Ketum APKLI. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)
Ali Mahsun Atmo, Ketum APKLI. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Stok beras dalam negeri disebut-Sebut berlimpah. Tetapi harga beras di berbagai daerah masih bergerak fluktuatif. Anomali antara stok dan harga beras menuai komentar beragam dari berbagai kalangan.

Ada yang mempertanyakan stok beras yang ada dikemanakan? Ada juga yang menyinggung mengapa saat cadangan beras pemerintah (CBP) berlimpah, tetapi harga beras mengalami kenaikan? Apalagi, saat ini CBP yang berada di Gudang Perum Bulog mencapai 3,9 juta ton.

Menjawab pertanyaan itu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman seperti dilansir detikfinance menduga ada penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah rantai pasok perberasan. Untuk itu, Pemerintah terus melakukan operasi pasar murah untuk mengintervensi kenaikan harga beras saat ini.

“Ada yang mengatakan, stok kita banyak (beras) tapi kenapa harga naik. Nah ini yang kita selesaikan dengan operasi pasar besar-besaran, kita siapkan 1,3 juta ton (beras)," terang Amran.

Baca juga : Firman Soebagyo: Jika Bisa Jaga Harga Beras, Rakyat Tenang

Lebih lanjut, Amran menjelaskan kasus naiknya harga beras pernah terjadi pada komoditas minyak goreng. Beberapa tahun lalu Indonesia sempat mengalami kelangkaan minyak goreng hingga kenaikan yang sangat signifikan. Padahal Indonesia merupakan produsen sawit sebagai bahan baku minyak goreng terbesar dunia.

"Ada yang mengatakan, stok banyak kok harga naik. Itu anomali, kenapa? (Sebagai contoh kasus) Kita produsen CPO (Crude Palm Oil) terbesar dunia, kita produsen minyak goreng terbesar dunia. Tetapi pernah terjadi di negeri kita, minyak goreng langka. Kalau tidak salah, 3 tahun lalu, 4 tahun langka,” katanya.

Untuk menormalkan harga beras, Pemerintah menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan menggelontorkan beras Stabilitasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Dampaknya, diakui Amran, mulai terlihat. Harga beras mulai mengalami penurunan di 32 provinsi.

Baca juga : Kepala Daerah Jangan Bertindak Semena-mena

Menurut Amran, penurunan terjadi di semua level, baik beras medium maupun premium, seiring gencarnya operasi pasar Pemerintah.

Namun, mengutip data Pusat Informasi dan Harga Pangan Strategis Nasional di laman resmi Bank Indonesia, harga rata-rata beras memang mengalami penurunan tipis. Harga beras kualitas medium I tercatat sebesar Rp16 ribu per kg per Jumat (29/8/2025), turun tipis dibandingkan harga pada 25 Agustus yang sebesar Rp16.050.

Di periode sama, harga beras kualitas medium II turun Rp100 menjadi Rp15.800 per kg. Adapun untuk beras kualitas super I, harganya juga turun Rp 100 menjadi Rp 17.200 per kg.

Anomali harga beras ini dikeluhkan oleh para padagang. Ketum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), Ali Mahsun Atmo mengakui dampak dari anomali harga beras para pedagang mengalami kerugian. “Pedagang omsetnya turun,” ujar Ali Mahsun.

Baca juga : Tak Ada Larangan Media Liput Demo

Sementara, anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo menga­takan kenaikan harga beras ini karena peredaran beras di lapangan berkurang, sementara permintaan tetap naik. “Terjadi permasalahan distribusi di lapangan,” kata Firman.

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Ali Mahsun Atmo terkait dengan anomali harga beras, berikut wawancaranya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.