Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Soal RUU Ketenagakerjaan, Koalisi Buruh Buka Ruang Dialog Hingga 22 September
- Karhutla Menurun, Menhut Dorong Kolaborasi Diperkuat
- B50 Sudah Mengalir Di 6.050 SPBU, ESDM Perkuat Pengawasan
- BRI Raih Penghargaan Indonesia Sports Industry of the Year 2026 dari Kemenpora
- PLN Indonesia Power Raih 97 Penghargaan ENSIA 2026
Ketika Informasi Kesehatan Bertebaran di Medsos, Mana yang Harus Dipercaya?
Rabu, 16 September 2026 14:44 WIB
Semakin berkembangnya teknologi, semakin cepat pula informasi menyebar. “Makan wortel bisa menyembuhkan atau menurunkan mata minus”. Kalimat seperti ini mungkin pernah kita temukan di berbagai platform media sosial. Kenyaannya tidak demikian. Wortel memang kaya akan vitamin A yang baik untuk menjaga kesehatan mata, tetapi bukan berarti dapat menyembuhkan mata minus yang sudah terjadi. Informasi kesehatan kini begitu mudah ditemukan dan hanya membutuhkan beberapa detik untuk sampai ke layar ponsel kita.
Kemudahan tersebut tentu membawa manfaat. Masyarakat dapat memperoleh berbagai informasi mengenai penyakit, pola hidup sehat, pencegahan penyakit, hingga tips menjaga kesehatan tanpa harus selalu menunggu informasi dari tenaga kesehatan. Namun, di tengah derasnya arus informasi tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah semua informasi kesehatan yang kita lihat di media sosial dapat dipercaya?
Media sosial memang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Informasi mengenai penyakit, pola hidup sehat, pencegahan penyakit, hingga berbagai tips kesehatan dapat diperoleh dengan cepat. Sayangnya, kemudahan tersebut juga membuat informasi yang keliru dapat menyebar dengan cepat. World Health Organization (WHO) menyebut melimpahnya informasi, termasuk informasi yang salah atau menyesatkan, sebagai infodemic. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dan memengaruhi perilaku seseorang dalam mengambil keputusan terkait kesehatan.
Baca juga : Akses JKN Makin Luas, BPJS Kesehatan Tingkatan Mutu Layanan Faskes
Informasi yang tidak akurat dapat menyebar dan dipercaya oleh banyak orang sebelum kebenarannya diperiksa. Penelitian Prana dan Sunarto (2025) menunjukkan adanya hubungan antara terpaan konten hoaks kesehatan di media sosial dan tingkat kepercayaan masyarakat dalam menggunakan media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya informasi yang tersedia tidak selalu berarti masyarakat memperoleh informasi yang benar dan dapat dipercaya.
Dengan demikian, menjadi pengguna media sosial yang cerdas bukan berarti harus menghindari semua informasi kesehatan di internet. Justru, media sosial dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat apabila digunakan dengan bijak. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi penyaring sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi tersebut.
Lalu, apa yang dapat dilakukan masyarakat? Salah satunya adalah meningkatkan keterampilan literasi informasi. Sebelum mempercayai atau membagikan informasi kesehatan, masyarakat dapat memeriksa siapa yang membuat dan menyebarkan informasi tersebut serta apakah sumbernya dapat dipercaya. Informasi juga perlu dibandingkan dengan sumber lain yang kredibel agar tidak langsung diterima begitu saja.
Baca juga : BPJS Kesehatan Tegaskan, Tidak Ada Program Subsidi Berhadiah Rp2 Juta
Penelitian Rachmawati dan Agustine (2021) menunjukkan bahwa kemampuan mengenali kebutuhan informasi, mencari sumber, serta mengevaluasi informasi merupakan bagian penting dalam mencegah hoaks kesehatan di media sosial. Dengan membiasakan diri memeriksa dan mengevaluasi informasi sebelum membagikannya, masyarakat dapat membantu mengurangi penyebaran informasi kesehatan yang keliru.
Pada akhirnya, menghadapi banjir informasi kesehatan bukan hanya tanggung jawab setiap pengguna media sosial. Kesehatan masyarakat juga memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kesehatan dan membantu masyarakat memahami informasi yang benar. Di era digital, menjadi sehat bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga mampu memilih informasi yang tepat sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
Sebelum mempercayai dan membagikan sebuah informasi kesehatan, mari berhenti sejenak dan bertanya: “Benarkah informasi ini, atau hanya terlihat meyakinkan?” Di era banjir informasi, masyarakat tidak cukup hanya memiliki akses terhadap informasi kesehatan. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk menilai apakah informasi tersebut dapat dipercaya.
Baca juga : Mengapa Kualitas Tidur Penting bagi Generasi Muda?
Artikel ini ditulis oleh Nawar Wulan, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
NAWAR WULAN
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya