Dark/Light Mode

Dirut BNI Royke Tumilaar Beberkan Strategi Hadapi Krisis

Ini Resep Jitu BNI Bertahan Di Pandemi

Jumat, 17 Desember 2021 06:45 WIB
Dirut BNI Royke Tumilaar (tengah) dalam program Muda Podcast RM. Host-nya, Ketua BUMN Muda yang juga Chief Digital Healthcare Officer PT Bio Farma Soleh Ayubi (kiri) dan Direktur Rakyat Merdeka Kiki Iswara (kanan). (Foto: BUMN Muda)
Dirut BNI Royke Tumilaar (tengah) dalam program Muda Podcast RM. Host-nya, Ketua BUMN Muda yang juga Chief Digital Healthcare Officer PT Bio Farma Soleh Ayubi (kiri) dan Direktur Rakyat Merdeka Kiki Iswara (kanan). (Foto: BUMN Muda)

 Sebelumnya 
Tapi, saat krisis akibat pandemi, ini tidak terjadi. Yang ia lihat, efeknya berbeda. Yaitu, permintaan kredit menurun. Diikuti dengan banyaknya UMKM yang tumbang, akibat terdampak kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat. Banyak warung tutup. Properti dan bisnis lainnya, turun. “Ekonomi tiba-tiba drop begi tu saja,” katanya, dengan air muka kelihatan panik, dan kedua tangannya menekan ke bawah. Menggambarkan kondisi drop.

Ketika itu terjadi, ia langsung berhitung. “Wah ini liquidity justru akan berlebih nih. Penerimaan akan turun, bunga akan tertekan,” kata Royke. Ia dan timnya langsung putar otak, mencari cara agar bank pelat merah itu, tetap bisa survive. “Cost of fund-nya harus turun. Semua yang special rate kita kembalikan. Kita turunkan,” katanya, membagi resep saat ini.

Baca juga : Kominfo Gandeng MUI Perkuat Strategi Pembelajaran Di Masa Pandemi

Cost of fund adalah biaya yang harus dibayar oleh bank atas penggunaan uang yang sumbernya dari pihak lain, baik dari nasabah atau bank.

Akibat kebijakan itu, BNI jadi nomor dua, terendah cost of fund di Indonesia saat ini. Bunga kredit juga diturunkan. Dampaknya, pendapatan bunga BNI tertekan. Tapi, strategi itu ternyata membawa berkah.

Baca juga : Nggak Bayar Utang, Hak Kredit Debitur BLBI Bakal Dibatasi

BNI jadi punya margin yang cukup. Selain tetap menghasilkan laba, bahkan BNI juga masih punya cadangan untuk menghadapi kemungkinan lain, yang terjadi di situasi krisis, seperti kredit bermasalah atau NPL dan juga membantu UMKM.

“Ternyata strategi ini lumayan dibaikin oleh investor,” ungkapnya, lega. “Jadi market cap BNI lumayan tumbuh besar dari sejak itu. Malah tumbuh sekitar Rp 40 triliun value-nya. Jadi bikin BUMN tambah kayalah,” katanya sambil tertawa.

Baca juga : Lewat Kolaborasi, Sovlo Ubah Krisis Jadi Peluang Di Masa Pandemi

Memang, di tangan Royke, BNI mencatatkan laba bersih yang luar biasa. Per September 2021, membukukan laba bersih Rp7,75 triliun. Pendapatan bunga bersihnya juga melesat 8 persen menjadi Rp 29,6 triliun.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.