Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Lagi Dibahas Pemerintah
Bulog Pengen Terlibat Stabilkan Harga Migor
Senin, 3 Januari 2022 06:40 WIB
Sebelumnya
Menanggapi ini, pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso berpendapat, Bulog sudah seharusnya ikut berperan menstabilkan harga pangan di pasaran. Sehingga tidak hanya sebatas pada komoditas beras dan gula.
Hal ini tertuang dalam Perpres (Peraturan Presiden) Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perum Bulog dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional.
Disebutkan, Pemerintah menugaskan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen.
Baca juga : 4 Pemainnya Dilarang Tampil Oleh Pemerintah Singapura, PSSI Ajukan Banding
Pangan yang dimaksud dalam regulasi tersebut mencakup beras, jagung, kedelai, gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, bawang merah, cabe, daging sapi, daging ayam ras dan telur.
“Komoditas pangannya apa saja, jelas ada Perpres 48. Tinggal pelaksanaannya. Kalau selama ini, sudah (menstabilkan) beras dan gula, ada komoditas lainnya, termasuk minyak goreng,” tutur Dwi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun diakuinya, tak mudah menurunkan harga minyak goreng. Sebab, bahan utama minyak goreng alias CPO masuk dalam komoditas internasional.
Baca juga : Presiden PKS Minta Pemerintah Segera Stabilkan Harga Pangan
“Mau tidak mau, harganya mengikuti harga minyak dunia,” sambungnya.
Dia pun berharap, ada kebijakan Pemerintah yang mendukung penurunan harga minyak goreng. Terlebih, Bulog juga akan berperan sebagai operator di Badan Pangan Nasional (BPN). Sehingga, diharapkan dapat memudahkan koordinasi dan pengambilan keputusan terkait komoditas pangan nasional.
Di tengah lonjakan harga minyak goreng saat ini, dia tak heran, bila para produsen lebih mengedepankan ekspor.
Baca juga : KPK Tahan Eks Ketua Tim Pemeriksa Pajak DJP Yang Terima Suap 6,5 Miliar
Kalau produsen diminta sisihkan produksinya sebelum diekspor, bisa saja mereka menolak. Tapi kan mereka membayar pajak ekspor.
“Nah, dari pajak ini harusnya bisa juga dimanfaatkan untuk (subsidi) menekan harga minyak,” katanya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya