Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ekspor Tembus Rekor Tertinggi, Airlangga: Ekonomi Indonesia Kian Tangguh
Selasa, 17 Mei 2022 21:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemulihan kondisi perekonomian setelah pandemi terus menjadi fokus Pemerintah dalam pengambilan kebijakan dan menjadi pondasi dalam menghadapi berbagai tantangan global yang kian masif ke depannya. Berbagai kebijakan yang telah diambil Pemerintah guna menjaga kestabilan kinerja fundamental perekonomian juga menunjukkan sinyal positif pada tiap leading indicator.
Salah satu indikator perekonomian yang memiliki performa positif adalah neraca perdagangan yang kembali melanjutkan trend surplus pada April 2022 dengan nilai mencapai 7,56 miliar dolar AS atau setara Rp 110 triliun. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi yang berhasil melampaui pada Oktober 2021 dengan nilai sebesar 5,74 miliar dolar AS atau setara Rp 84 triliun. Pencapaian tersebut kian membawa perekonomian Indonesia menjadi lebih tangguh mengingat neraca perdagangan merupakan salah satu indikator utama dalam meningkatkan cadangan devisa dan menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia.
“Neraca perdagangan merupakan determinan yang sangat penting dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi dan menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia. Kita bersyukur bahwa salah satu engine utama pertumbuhan ekonomi ini terus mengalami performa gemilang dan bahkan kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Selasa (17/5).
Baca juga : Ahsan/Kevin Bantai China, Indonesia Unggul 2-0
Selain datang dari neraca perdagangan, kinerja positif juga ditunjukkan pada indikator ekspor yang mengalami surplus dengan nilai sebesar 27,32 miliar dolar AS atau setara Rp 400 triliun. Serupa halnya dengan surplus neraca perdagangan, angka surplus ekspor juga mampu mengungguli rekor tertinggi sebelumnya pada Maret 2022 yang tercatat mencapai 26,50 miliar atau setara Rp 388 triliun.
Kinerja surplus pada nilai ekspor tersebut salah satunya dipengaruhi tingginya harga komoditas unggulan saat ini seperti harga CPO sebesar 1.682,7 dolar AS per metrik ton (MT) atau tumbuh 56,09 persen (yoy), batubara sebesar 302,0 dolar AS per MT atau tumbuh 238,83 persen (yoy), dan nikel sebesar 33.132,7 dolar AS per MT atau tumbuh 100,55 persen (yoy).
Selain itu, tingginya dominasi sektor industri pada kegiatan ekspor yang mencapai 69,86 persen juga menjadi stimulus dalam peningkatan nilai surplus ekspor. Hal ini karena kinerja ekspor akan mengarah pada basis komoditas-komoditas dengan nilai tambah yang terus bertumbuh.
Baca juga : Aktivitas Ekonomi Ibu Kota Kembali Menggeliat
Selain itu, program hilirisasi yang diterapkan Pemerintah untuk mendorong nilai tambah komoditas di tengah harga yang kian meningkat juga memiliki andil dalam tumbuhnya kinerja ekspor saat ini. Hal ini dapat terlihat dari aktivitas manufaktur yang terus berada di level ekspansif dengan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) April 2022 di level 51,9 naik dari posisi bulan sebelumnya di level 51,3. Adanya kenaikan tersebut membawa nilai PMI Indonesia berada di atas level PMI negara ASEAN lainnya seperti Vietnam (51,7), Malaysia (51,6) dan Myanmar (50,4).
Dengan keberhasilan program hilirisasi tersebut, ke depannya Pemerintah akan kian gencar dalam memaksimalkan berbagai potensi kebijakan lainnya. Seperti kerja sama bilateral dan multilateral dalam meningkatkan perdagangan, utamanya dalam peningkatan nilai ekspor Indonesia.
“Selain program hilirisasi, Pemerintah akan terus meningkatkan nilai ekspor Indonesia melalui berbagai upaya, salah satunya dengan melakukan program promosi ekspor dengan peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral. Forum G20 juga akan dioptimalkan untuk menggali berbagai potensi kerja sama perdagangan dengan berbagai negara,” ungkap Airlangga.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melewati Korsel Dan China
Bergeser dari catatan nilai ekspor, sisi impor tercatat mengalami penurunan dari periode sebelumnya sebesar -10,01 persen (mtm) pada April 2022 menjadi sebesar 19,76 miliar dolar AS atau setara Rp 289 triliun. Namun, penurunan tersebut tidak lantas menghambat kegiatan produksi. Hal ini dikarenakan komposisi utama impor didominasi golongan bahan baku/penolong dengan porsi sebesar 78,62 persen sehingga produksi barang baru yang bernilai tambah tinggi dapat terus dilakukan produsen yang akan mendorong peningkatan output nasional.■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya