Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pemerintah Kerek TKDN

Pertamina Sudah Pakai 60 Persen Produk Lokal

Kamis, 16 Juni 2022 07:30 WIB
PT Pertamina (Persero). (Foto: Dok. Pertamina).
PT Pertamina (Persero). (Foto: Dok. Pertamina).

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diharapkan menjadi pioneer dalam penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Untuk itu, Pertamina mengerek TKDN dalam setiap proses bisnisnya.

Hal tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2022, tentang Percepatan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri dan Produk Usaha Mikro, Kecil dan Koperasi.

Menyoal ini, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, sudah banyak BUMN yang mampu mematuhi penyerapan produk dalam negeri.

Tetapi yang kerap menjadi sorotan belakangan, memang industri minyak dan gas (migas). Mengapa? Karena industri ini membutuhkan produk dengan kualitas tinggi. Serta harus presisi untuk mencegah beragam kebocoran atau kegagalan proyek lainnya.

“Akhirnya, kebutuhan ini sebagian masih dipenuhi dari produk impor,” kata Eko kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Jika berbicara soal kualitas produk dalam negeri, lanjut Eko, sebenarnya sudah banyak yang masuk kriteria. Namun, masih ada yang belum bisa memenuhi permintaan dalam jumlah besar, lantaran minim bahan baku.

Untuk itu, jika ada produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang sesuai kriteria industri migas, maka bisa dilakukan business matching. Sekaligus pendampingan langsung dari pengguna.

Berita Terkait : Kemiskinan Ekstrem Seperti Kerak Nasi, Susah Dikerok...

“Dengan begitu, produksi dalam negeri akan lebih terdorong menciptakan produk-produk berkualitas tinggi, dan tidak perlu impor,” ujar Eko.

Seperti diketahui, dalam penilaian TKDN, Kementerian BUMN menggaet PT Sucofindo (Persero) dan PT Surveyor Indonesia (Persero) Tbk, yang merupakan anggota holding BUMN Jasa Survei (ID SUrvey) bersama PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) sebagai induk, untuk mengukur pelaporan TKDN. Sehingga BUMN tidak bisa asal dalam membuat laporan.

Direktur Utama Sucofindo Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, pihaknya telah melakukan verifikasi TKDN kepada 806 pelaku usaha. Serta membantu Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menerbitkan 398 sertifikat TKDN pada periode Januari-Mei 2022.

 

Selain itu, Sucofindo telah menerbitkan 218 sertifikat TKDN kepada UMKM.

Sertifikat TKDN dapat digunakan UMKM sebagai bukti pemenuhan penggunaan produk dalam negeri, sebagai syarat pengadaan barang atau jasa.

Hal ini berdasarkan Pasal 86 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014, tentang perindustrian yang mewajibkan perusahaan atau lembaga menggunakan produk dalam negeri di tiap pengadaan barang atau jasa.

“Implementasi TKDN sejalan dengan program Presidensi G20, yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo. Yaitu mewujudkan Pemulihan Ekonomi Nasional,” ucap Mas Wigrantoro dalam keterangan resminya, Senin (13/6).

Berita Terkait : Perkuat Penyehatan Kinerja, Garuda Kantongi Persetujuan Restrukturisasi KIK-EBA

Dia menegaskan, dalam mensukseskan program TKDN, Sucofindo siap membantu untuk konsultasi dan sosialisasi secara masif.

“Hal tersebut dilakukan guna menjaring objek verifikasi sebanyak-banyaknya. Dan tidak terbatas pada sertifikasi TKDN barang,” tuturnya.

Sementara, PT Pertamina (Persero) mencatat realisasi TKDN perseroan pada 2021 mencapai 60 persen atau senilai Rp 9,73 triliun.

Capaian ini merupakan hasil dari upaya perusahaan migas negara dalam menggenjot penggunaan produk lokal untuk berbagai proyek strategisnya.

“Realisasi TKDN Pertamina telah diverifikasi seluruhnya oleh surveyor independen dari Sucofindo dan Surveyor Indonesia,” jelas Pejabat Sementara (Pjs) Vice President Corporate Communication Pertamina Heppy Wulansari dalam keterangan tertulis, Senin (13/6).

Realisasi tersebut mencakup Pertamina Group, baik holding BUMN maupun subholding. Pertamina juga telah menyusun Pedoman Pengelolaan Penggunaan Produk Dalam Negeri yang berlaku efektif mulai 1 Desember 2020.

Menurut Heppy, sebagai perusahaan minyak dan gas (migas) pelat merah, Pertamina berupaya meningkatkan pemanfaatan produk dalam negeri. Baik itu dalam tiap pelaksanaan proses bisnis maupun proyek perseroan.

 

Berita Terkait : Persib Vs Bali United, David da Silva Dekati 100 Persen

Pertamina juga telah membuat Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), yang salah satu fokusnya mengenai peta implementasi TKDN.

Heppy menyebut contoh penerapan TKDN dalam proyek strategis nasional. Yakni pengadaan pipa untuk Proyek EPC (Engineering Procurement Construction) Lawe-Lawe di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), telah menggunakan produk dalam negeri.

Proyek yang dijalankan Subholding Refinery & Petrochemical-PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) ini, menggunakan pipa transfer 20 inch dan 52 inch onshore. Serta offshore buatan dalam negeri.

KPI juga melakukan pendampingan sejak awal kepada pabrikan pipa lokal. Mulai dari pembuatan material plat sampai pembuatan pipa tersebut. Sehingga, produk pipa yang dihasilkan memenuhi spesifikasi yang disyaratkan dalam proyek.

Implementasi TKDN juga dijalankan di PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) dalam produksi pipa konduktor 20 inch.

PT PHM melakukan pembinaan kepada pabrikan-pabrikan dalam negeri. Sehingga memenuhi spesifikasi yang disyaratkan dalam proyek.

Dari pembinaan yang telah dilakukan, pipa produksi dari dua pabrikan dalam negeri telah lolos field trial test dan dapat digunakan sebagai substitusi produk impor. Otomatis ini meningkatkan capaian TKDN Pertamina secara keseluruhan. ■