Dewan Pers

Dark/Light Mode

Penerimaan Negara Bukan Pajak

Sektor Migas Primadonanya

Sabtu, 6 Agustus 2022 06:30 WIB
Kementerian ESDM. (Foto: Dok. Kementerian ESDM)
Kementerian ESDM. (Foto: Dok. Kementerian ESDM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencari pundi-pundi pemasukan untuk keuangan negara patut diacungi jempol. Hal ini tercermin dari laporan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yang menyebut realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) paling banyak diraih dari sektor minyak bumi dan gas bumi (migas).

Dalam laporannya hingga Juni 2022, Kemenkeu mencatat, realisasi PNBP mencapai Rp 281 triliun. Atau naik 35,8 persen dibanding tahun lalu.

Angka tersebut sudah 58,3 persen dari target dalam Perpres Nomor 98 Tahun 2022, sebesar Rp 481,6 triliun.

Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatarwata mengungkapkan, PNBP ini didominasi pendapatan Sumber Daya Alam (SDA) dengan angka Rp 114,6 triliun.

“Rinciannya, Rp 74,6 triliun dari sektor migas, dan Rp 40 triliun dari sektor nonmigas, “ ujar Isa dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/8).

Berita Terkait : Panas Dingin AS-China, Dave Ajak Seluruh Pihak Jaga Perdamaian

Menurut Isa, minyak bumi mencatat pencapaian terbesar dalam PNBP SDA, dengan angka Rp 66,1 triliun. Sisanya sebesar Rp 8,4 triliun disumbang gas bumi.

Realisasi PNBP SDA migas yang menembus angka Rp 74,6 triliun, antara lain dipengaruhi faktor harga minyak mentah Indonesia sebesar 117, 62 dolar AS per barrel.

Sementara, realisasi PNBP SDA Mineral dan Batubara (Minerba) mencapai Rp 36,3 triliun. Dari angka tersebut, Rp 22,7 triliun diperoleh dari pendapatan nonroyalti batu bara, dan Rp 13,6 triliun dari royalti batubara. Angka ini mencapai 46 persen dari target Perpres Nomor 98 Tahun 2022.

“Peningkatan PNBP SDA Minerba ini dipicu oleh kenaikan harga komoditas batu bara, nikel dan tembaga,” tambah Isa.

Selain disumbang oleh pendapatan SDA (migas dan nonmigas), PNBP semester I-2022 sebesar Rp 281 triliun juga turut ditentukan oleh penerimaan Kekayaan Negara Dipisahkan (KND) senilai Rp 35,5 triliun, dan PNBP lainnya Rp 85,1 triliun. Di luar itu, ada pendapatan Badan Layanan Usaha (BLU) Rp 45,8 triliun.

 

Berita Terkait : Berantas Kejahatan Sektor Keuangan!

Isa mengatakan, PNBP pada semester I ini secara keseluruhan masih cukup baik. Kemenkeu berharap di semester II bisa mencatatkan prestasi dan kinerja lebih baik lagi.

Terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, kontribusi PNBP SDA menjadi sangat penting dan jadi penerimaan negara yang diandalkan, di tengah ketidakpastian global dan melonjaknya harga komoditas.

“Pajak dan PNBP menjadi instrumen keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Penerimaan negara disokong oleh kenaikan harga komoditas, terutama minyak dan gas bumi ini akan membantu pemerintah mengatasi dampak pandemi Covid-19,” kata Sri Mulyani dalam Webinar Digitalisasi sebagai Sarana Pencegahan Korupsi di Jakarta, Rabu (3/8).

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, ini capaian luar biasa dari sektor hulu migas. Karena memberikan kontribusi yang besar bagi penerimaan negara. Belum lagi sektor minerba memberikan kontribusi yang besar bagi penerimaan APBN.

“Meski tidak bisa dipungkiri, ini terjadi karena adanya kenaikan harga komoditas yang jauh dari yang ditetapkan oleh APBN kita,” kata Mamit kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berita Terkait : Tito Dorong APIP Utamakan Pencegahan Pelanggaran, Bukan Penjarakan Orang

Kendati begitu, lanjut dia, untuk mempertahankan PNBP yang tinggi di sektor SDA, bukan hal mudah. Apalagi di hulu migas, lifting (produksi minyak) Indonesia terus mengalami penuruan.

Perlu usaha keras agar lifting bisa terus terjaga. Dan juga perlu terobosan agar investasi migas bisa meningkat.

Terlebih faktor harga komoditas SDA ini sulit diperkirakan. Karena mengikuti perkembangan kondisi global terutama politik, keamanan dan juga ekonomi. [NOV]