Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Investasi tidak lagi menjadi istilah asing di kalangan generasi muda. Investasi bagi sebagian kaum muda menjadi bagian strategi untuk mencapai kemerdekaan secara finansial.
Sayangnya minat investasi ini oleh sebagian anak muda hanya didorong oleh hasrat yang menggebu. Bahkan ada yang ikut lantaran ingin terkesan up to date.
Ada juga yang termakan bujuk rayu hasil yang menggiurkan dari hasutan di media sosial. Padahal untuk berinvestasi, tidak hanya bermodalkan niat, tapi butuh pengetahuan yang cukup.
Baca juga : Keren, Dua Universitas Di Jepang Belajar Musik Angklung
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa, euforia dalam berinvestasi ini harus disertai dengan pengetahuan yang cukup bagi anak-anak Generasi Z sebagai investor pemula.
Jangan sampai generasi yang lekat dengan gadget dan dunia digital ini hanya berinvestasi karena ikut-ikutan, tanpa punya pengetahuan.
“Kalau kita tak ajari mereka, mereka bisa kapok berinvestasi. Forum ini berguna untuk meningkatkan literasi ke masyarakat. Membekali diri untuk berhasil di pasar finansial itu penting,” tutur Purbaya dalam seminar hybrid bertajuk “Merdeka Finansial di Era Digital” yang digagas Validnews.id, di Jakarta, Kamis (18/08).
Baca juga : Resmi, PSIS Semarang Ikat Titus Bonai
Ia menyarankan agar sebelum melakukan investasi terutama di layanan digital sebaiknya kuasai dahulu risikonya. Menurutnya, anak muda saat ini memiliki kecenderungan mengadopsi media digital, khususnya media sosial, dalam mengambil keputusan terkait keuangan dan investasi.
Di sisi lain, anak muda juga memiliki kecenderungan ingin mendapatkan keuntungan cepat dalam berinvestasi.
“Generasi muda cenderung tergiur dengan investasi yang berisiko tinggi. Risikonya tidak dipelajari sama sekali, makanya flexing laku,” ujarnya.
Baca juga : Sebelum Investasi Apartemen, Simak 5 Faktor Penting Berikut
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jika pada 2018 lalu, investor pasar modal tercatat hanya sebanyak 1,6 juta, pada Juli 2022, jumlahnya sudah mencapai 9,3 juta. Pada periode yang sama, investor saham mencapai 4,1 juta, reksadana 8,6 juta dan surat berharga negara (SBN) sebanyak 736,4 ribu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya