Dewan Pers

Dark/Light Mode

Stok Berlimpah, Gas Didorong Gantikan Minyak

Perizinan Rumit, Bikin RI Kurang Diminati Investor

Kamis, 6 Oktober 2022 07:30 WIB
Sekretaris SKK Migas Taslim Z Yunus dan Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Media Gathering SKK Migas dan KKKS di Kota Bandung, Senin (3/10/2022). (ANTARA/HO-Humas SKK Migas).
Sekretaris SKK Migas Taslim Z Yunus dan Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Media Gathering SKK Migas dan KKKS di Kota Bandung, Senin (3/10/2022). (ANTARA/HO-Humas SKK Migas).

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia memiliki cadangan gas yang berlimpah ruah. Namun sayang, hingga kini bangsa ini belum optimal menggarap potensi tersebut.

SatuanKerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) optimistis sektor minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia masih bisa terus dioptimalkan meski Pemerintah sedang gencar melakukan transisi ke energi yang lebih bersih.

Sekretaris SKK Migas Taslim Z. Yunus mengatakan, melonjaknya harga migas menyebabkan beban subsidi energi meningkat. Artinya, ketersediaan migas masih sangat diperlukan sebagai salah satu sumber energi utama yang digunakan saat ini.

Berita Terkait : Kunjungi Kampung Perajin Ikan Di Majalengka, Puan Ikut Bikin Bandeng Presto

“Tantangannya, potensi migas nasional lebih didominasi oleh gas. Hal ini tentu menjadi tantangan bersama, bagaimana agar gas dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga bisa menggantikan peran minyak yang saat ini sebagian masih impor,” ujar Taslim dalam pembukaan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) sekaligus media gathering SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), di Bandung, Senin (3/10).

Dia mengungkapkan, besarnya potensi migas dalam negeri belum digarap optimal. Padahal Indonesia memiliki 128 cekungan migas, yang sebagian besar memiliki potensi gas.

“Dari jumlah itu, yang sudah berproduksi baru 20 cekungan. Dan sisanya menjadi tantangan, bagaimana diproduksi agar dapat menjadi penopang ketahan energi nasional,” katanya.

Berita Terkait : KIP Dorong Pembentukan Desk Pemilu Di Tiap Daerah

Jika cekungan-cekungan tersebut berhasil dieksplorasi dan dieksploitasi, menurut Taslim, bisa membawa banyak keuntungan bagi Indonesia.

Keuntungan pertama, jika gas yang ditemukan berhasil diambil maka akan menambah bauran energi. Kedua, jika cekungan-cekungan tersebut menghasilkan migas, maka bisa mengurangi defisit transaksi berjalan.

Hanya saja, tantangan yang ada saat ini adalah bagaimana memonetisasi potensi yang ada tersebut.

Berita Terkait : Pasok Gas, Gagas Dukung Daya Saing Kerajinan Rotan

Dipaparkannya, industri migas saat ini harus bersaing dengan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam mengundang investor. Sebab, pengembangan EBT berkaitan dengan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) sampai 2060.
 Selanjutnya