Dark/Light Mode

Ekonom Bahana TCW: Tantangan Ekonomi Tahun Depan Tak Mudah

Kamis, 1 Desember 2022 13:17 WIB
Media Brief Macro Economic Outlook Bahana TCW bertajuk Withstanding the Next Crisis. (Foto: Ist)
Media Brief Macro Economic Outlook Bahana TCW bertajuk Withstanding the Next Crisis. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Ekonom PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat melihat, potensi krisis ekonomi 2023 akan berisiko lebih lama dan akut. Ancaman krisis tahun depan, akan dihadang oleh kondisi ekonomi global yang semakin bergejolak. Selain ancaman resesi, tingginya inflasi, hingga pengetatan likuiditas semakin memojokkan ekonomi banyak negara menuju pelemahan. 

Bahkan dalam kondisi terburuk, Bank Dunia bahkan meramal perekonomian global akan menyusut hingga 1,9 persen poin menjadi 0,5 persen pada 2023. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga menyatakan bahwa melambatnya ekonomi global terutama akan terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. 

Bahkan, probabilitas terjadinya resesi di AS sudah mendekati 60 persen, demikian juga di Eropa. “Pemicu utama dari kondisi ekonomi AS dan Eropa adalah tingginya harga energi dan bahan makanan, serta kebijakan moneter yang diambil akan semakin ketat,” jelasnya dalam Media Brief Macro Economic Outlook Bahana TCW bertajuk Withstanding the Next Crisis, Rabu (30/11).

Hal tersebut sambung Budi, didorong oleh konflik geo-politik multi polar dan polemik kebijakan moneter paska pandemi yang lebih membutuhkan kerjasama internasional terutama antar negara yang berseteru.

Baca juga : BI Ramal Ekonomi RI Tahun Depan Tetap Kuat

"Kami mengkhawatirkan saat ini sebetulnya, dunia mengarah pada suatu krisis baru. Krisisnya nanti apakah sebaran, kemudian kedalaman atau keparahan, dan durasi, kemungkinan besar ini lebih luas, lebih dalam dan lebih lama," ungkapnya.

Menurut Budi, pertumbuhan ekonomi telah kehilangan momentum akibat Covid yang kemudian diperparah perang Rusia-Ukraina serta perang dagang AS-China yang meningkatkan risiko utang negara miskin dan potensi krisis pangan di sejumlah kawasan. 

Pengaruh berbagai cost-push factors paska pandemi yang pelik terutama terkait upah, gangguan rantai pasok, lonjakan biaya energi dan pangan mempersulit upaya bank sentral mengendalikan inflasi. Kebijakan pengetatan lanjutan berisiko memicu stagflasi global.

"Capital market sudah mengantisipasi ya. Jadi seperti bursa di Amerika itu sempat anjlok 20 persen lebih. Demikian juga di pasar obligasi sudah naik bahkan melewati inflasi, namun imbal hasil jangka panjang tidak sepesat yang jangka pendek," kata dia. 

Baca juga : Lucky Bayu Purnomo Raih Gelar Doktor Ekonomi Dengan Predikat Sangat Memuaskan

Budi menlanjutkan, perekonomian Indonesia diharapkan dapat bertahan di tengah terpaan badai resesi global dengan ditunjang fundamental kuat. 

Perekonomian domestik secara umum masih menunjukkan ketahanan dengan ditopang peningkatan permintaan domestik, investasi yang terjaga, dan berlanjutnya kinerja positif ekspor meskipun mulai menunjukkan indikasi pelemahan temporer di September 2022.  "Ini harus dijawab, benarkah fundamental Indonesia kuat?" kata dia. 

Sementara untuk Purchasing Manufactur Index (PMI) Indonesia meneruskan akselerasi di tengah kontraksi dan pelemahan manufaktur di negara-negara besar, seperti Eropa, Tiongkok, dan Korea Selatan. Selain memanfaatkan kenaikan berbagai income commodity (seperti batu bara, nickel, CPO dan karet) yang lebih gegas ketimbang cost commodity (khususnya minyak mentah), program hilirasi sektor minerba memperkuat fundamental perekonomian. 

Sementara itu, Direktur PT Bahana TCW Investment Management Danica Adhitama mengatakan, Bahana TCW sebagai perusahaan manajemen investasi dan anak usaha dari Holding BUMN Asuransi dan Penjaminan (Indonesia Financial Group - IFG) berkomitmen, untuk terus menghadirkan produk investasi yang dapat menjawab tantangan ekonomi 2023. 

Baca juga : Presiden Tambah 2 Tahun Dinyalakan La Nyalla

Berbekal pengalaman profesional puluhan tahun dan komitmen kuat untuk mengutamakan tata kelola (good governance) yang telah diapresiasi banyak pihak di dalam dan di luar negeri, serta ditopang oleh talenta sumber daya manusia. “Bahana TCW siap membantu masyarakat berinvestasi melalui berbagai asset class dan instrument,” katanya.

Dengan melibatkan comprehensive assessment atas sebuah emiten yang akan menjadi underlying sebuah produk investasi, serta dengan melibatkan penggunaan teknologi informasi untuk memastikan emiten yang bersangkutan memiliki going concern dan fundamental yang kuat. Sehingga dapat menodorong produk Reksa Dana dapat memberikan tingkat pengembalian investasi yang optimal.

"Memang banyak sekali kebijakan baru yang dikeluarkan oleh regulator pasar modal khususnya, yang justru semakin memperketat gerakan perilaku pasar industri," kata Danica. 

Selain itu, menurutnya, kondisi pasar global juga turut mempengaruhi sikap da perilaku investor. Hal itu bisa dilihat dampaknya dari tren aset industri reksadana pada 2022 mengalami penurunan secara agregat. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.