Dark/Light Mode

Ekonomi Bisa Tumbuh 5,3 Persen Jika Konsumsi Domestik Terjaga

Selasa, 31 Januari 2023 07:40 WIB
Foto: Ilustrasi/Istimewa
Foto: Ilustrasi/Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemulihan ekonomi nasional terus berlanjut. Menurutnya, fondasi perekonomian Indonesia masih kuat. Karena itu, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,3 persen year on year (yoy).

"Konsumsi, investasi, dan ekspor menggerakkan perekonomian nasional,” ujar Ketua Umum Partai Golkar itu.

Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah Redjalam menilai, angka tersebut sebagai angka yang realistis meski di tengah ketidakpastian dan ancaman krisis global.

Menurut Piter, perbedaan ekonomi Indonesia dengan ekonomi negara lain adalah dukungan konsumsi domestik.

"Menurut saya realistis. Karena memang kondisi Indonesia berbeda dengan kondisi global," ujarnya.

Piter memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh pada rentang 4,8-5,3 persen. Oleh sebab itu, angka 5,3 persen adalah angka optimistis, dan tetap realistis.

Baca juga : Airlangga: Konsumsi & Investasi Terkerek Naik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama komponen PDB dari sisi pengeluaran.

Konsumsi domestik berkontribusi 50,38 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Kuartal III-2022. Dari 2014 hingga 2018, rata-rata kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB adalah 56,15 persen.

Pada 2019 hingga 2021, rata-rata kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB adalah 56,2 persen. Rinciannya, pada 2019 adalah 56,63 persen, 2020 naik ke 57,65 persen, dan 2021 turun ke 54,42 persen.

Tantangan Besar

Ekonom INDEF Agus Herta Sumarto mengatakan, tiga sektor yang disebut menopang pertumbuhan ekonomi, yaitu ekspor, konsumsi dan investasi, memiliki tantangannya masing–masing.

Menurutnya, tantangan terbesar ada di sektor ekspor. Di tengah melemahnya kinerja perekonomian global, menggenjot ekspor sepertinya bukan perkara mudah.

Baca juga : Jelang 2024, Rating Jokowi Naik Terus

“Kinerja perdagangan global belum benar-benar pulih, sehingga pemerintah harus bisa memilih sektor ekonomi serta komoditas yang bisa menggenjot ekspor Indonesia,” kata Agus, Senin (30/1).

Kemudian konsumsi masyarakat, tantangannya ada pada bagaimana mempertahankan daya beli masyarakat.

Setelah beberapa waktu lalu dihantam badai PHK dan naiknya beberapa komoditas pangan, struktur ekonomi kita masih sangat tergantung dari sisi konsumsi. Pasalnya, lebih dari 50 persen PDB kita disokong oleh konsumsi.

“Optimisme masyarakat harus terus dijaga sehingga mereka tidak mengerem konsumsinya akibat adanya scarring effect,” jelas Agus yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Mercu Buana itu.

Lalu pada sektor investasi, di tengah pelemahan ekonomi  dunia maka investor akan sangat berhati hati dalam memilih daerah tujuan. Para investor terutama investor global masih cenderung wait and see sebagai bentuk kehati-hatian mereka.

Beberapa SWF global masih menerapkan standar persyaratan investasi yang tinggi untuk negara-negara tujuan investasinya.

Baca juga : Perekonomian Membaik, Konsumsi Listrik di NTB Meningkat 3,02 Persen

“Mereka mencoba mengalihkan risiko investasi ke masing-masing negara yang menjadi target dan tujuan investasi mereka. “ ungkap Agus.

Sovereign Wealth Fund (SWF) adalah yang memiliki fungsi stabilisasi, investasi dan tabungan sangat diperlukan kehadirannya

Secara umum, INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi indonesia di 2023 berada di angka 4,8 persen. Kisaran ini hampir sama dengan sejumlah lembaga moneter dunia lainnya. Meski di bawah proyeksi pemerintah, namun secara umum kondisi perekonomian Indonesia cukup tangguh dibandingkan negara-negara lain.■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.