Dark/Light Mode

Tekanan Ekonomi Global Mulai Mereda

Jokowi: Peluang Resesi Masih Ada

Kamis, 2 Februari 2023 06:45 WIB
Presiden Joko Widodo saat menghadiri Mandiri Invesment Forum di Hotel Fairmount Jakarta, Rabu (01/02/2023). Mandiri Investment Forum (MIF 2023), mengangkat tema Prevailing Over Turbulence sejalan dengan optimisme Indonesia untuk tetap tumbuh kuat dan mampu mengarungi berbagai tantangan di tengah turbulensi ekonomi global saat ini. (Foto: Randy Tri Kurniawan/RM).
Presiden Joko Widodo saat menghadiri Mandiri Invesment Forum di Hotel Fairmount Jakarta, Rabu (01/02/2023). Mandiri Investment Forum (MIF 2023), mengangkat tema Prevailing Over Turbulence sejalan dengan optimisme Indonesia untuk tetap tumbuh kuat dan mampu mengarungi berbagai tantangan di tengah turbulensi ekonomi global saat ini. (Foto: Randy Tri Kurniawan/RM).

 Sebelumnya 
“Kita masih bisa mencapai target, di atas Rp 1.207 triliun. Kemudian, pertumbuhan itu 53 persen dari luar Pulau Jawa dan 47 persen ada di Jawa. Artinya, sudah tidak Jawa Sentris lagi, Indonesia Sentris,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Koor­dinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis dan tetap waspada jadi sikap Pemerintah menghadapi pereko­nomian ke depan.

Pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah kebijakan utama dalam memitigasi berbagai risiko potensi krisis ekonomi global. Pasalnya, Bank Dunia memprediksikan pereko­nomian global hanya akan ber­tumbuh 1,7 persen tahun 2023.

Sejumlah kebijakan utama yang diambil Pemerintah dalam jangka pendek, yakni mem­perkuat pasar domestik dan kon­sumsi produk dalam negeri serta menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi.

Baca juga : Penembakan Massal California Lagi: 7 Tewas, Pelaku Lansia Asia

Dalam jangka menengah pan­jang, Pemerintah berkomit­men melakukan transformasi ekonomi untuk meningkatkan investasi, mendorong produk­tivitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan menyerap tenaga kerja melalui implementasi Undang-Undang Cipta Kerja.

“Konsumsi domestik dan investasi masih men­jadi driver utama pendorong pertumbuhan. Capaian ini tentu tidak lepas dari peran pasar modal sebagai sumber alternatif pembiayaan pembangunan,” ungkap Airlangga dalam keterangannya, kemarin.

Di sektor keuangan, lanjut Airlangga, Pemerintah juga melakukan reformasi keuangan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), yang diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan sektor keuangan.

Selain itu, juga akan dilakukan pengaturan terhadap Devisa Ha­sil Ekspor (DHE) melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2019, dengan perluasan komoditas ekspor wajib DHE se­lain Sumber Daya Alam (SDA). Yaitu, komoditi manufaktur hasil hilirisasi.

Baca juga : Triliunan Dana APBD Kok Masih Ngendap

Airlangga bilang, Pemerin­tah berkomitmen membangun hilirisasi industri agar dapat menambah nilai jual komoditas.

“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, ekspor bahan mentah akan terus dikurangi dan hiliri­sasi industri akan terus ditingkat­kan,” kata Airlangga.

Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan, Pemerintah juga mendorong ekonomi hijau, penurunan emisi karbon, dan pengembangan ekosistem electric vehicle se­bagai potensi kendaraan masa depan.

Pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur. Antara lain, pengembangan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Utamanya untuk memeratakan pembangunan ekonomi di selu­ruh wilayah Indonesia.

Baca juga : Jokowi Ganti Gaya

“Pemerintah berterima kasih kepada para stakeholder, inves­tor, pengusaha, termasuk media, yang terus aktif berkontribusi membangun kepercayaan dan stabilitas di pasar modal Indone­sia,” pungkas Airlangga. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.