Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Terpisah, Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah berpendapat, keberadaan Bulog dan NFA sudah sepatutnya benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kalau sinergi mereka kuat, koordinasi dengan daerah juga baik, maka Bulog, ID Food, Badan Pangan punya power untuk menghadapi berbagai tantangan di sektor pangan,” terang Trubus kepada Rakyat Merdeka, kemarin
Ia berharap, ketika masa panen tiba, Bulog bisa menyerap beras seoptimal mungkin. Begitu juga, dengan ID Food mampu mendistribusikan dan menjaga ketersediaan pangan ke daerah-daerah.
Baca juga : Tekan Inflasi, Bulog Gelontorkan 300 Ribu Ton Beras
Apalagi ID Food memiliki jaringan tak hanya di sektor pertanian, tapi juga perikanan dan peternakan. Sehingga diharapkan kebutuhan pangan dari hulu hingga hilir bisa diwujudkan.
“Soal pangan kan bukan cuma beras. Bukan lagi sembako (sembilan bahan pokok). Sekarang sudah 11 bahan pokok yang ketersediaannya harus dipenuhi dan harganya harus dijaga,” tuturnya.
Yang terpenting, kata dia, ke depannya Pemerintah melalui lembaga-lembaga tersebut harus mampu menghadirkan bahan pangan berkualitas, namun dengan harga murah agar terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Baca juga : Harga Beras Mahal, Buwas Salahkan Mafia
“Bahan pangan sekarang itu ada. Tapi masih mahal. Harusnya, bahan pangan ada dan murah,” sambungnya.
Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR, Buwas menjelaskan, operasi pasar masih terus dilakukan serentak ke berbagai daerah untuk menekan harga beras di tingkat konsumen tak terus melambung tinggi.
“Operasi pasar ini termasuk beras impor, meski kualitasnya premium, kita lepasnya dengan harga medium, yaitu Rp 8.300 per kilogram (Kg),” kata Buwas di Jakarta, Selasa (31/1).
Baca juga : Lahirkan Politisi Beretika, UBL Luncurkan Sekolah Pintar Politik
Bahkan untuk mempercepat pendistribusian beras tersebut, pihaknya juga menyasar langsung ke pasar ritel, bukan lagi lewat pedagang atau pasar tradisional.
Harga yang dibanderol pun, kata dia, maksimal dijual seharga Rp 9.450 per kg atau sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Mengingat, biaya kemasan dan ongkos angkut kecil.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya