Dark/Light Mode

Indonesia Kudu Genjot Industri Kimia Berbasis Methanol

Sabtu, 28 September 2019 09:57 WIB
Kadin Indonesia berkolaborasi dengan Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) dan Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) menggelar Seminar Nasional seputar Industri Kimia Berbasis Methanol di University Club,  Jumat (27/9).
Kadin Indonesia berkolaborasi dengan Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) dan Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) menggelar Seminar Nasional seputar Industri Kimia Berbasis Methanol di University Club, Jumat (27/9).

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia perlu memaksimalkan lagi struktur industri yang berbasis di hulu, salah satunya yakni industri petrokimia berbasis methanol. Methanol adalah bagian yang tak terpisahkan karena perannya sebagai pemasok bahan baku untuk berbagai sektor industri lainnya.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Johnny Darmawan dalam sambutannya di Seminar yang digelar di University Club, UGM - Yogyakarta, Jumat (27/9).

Acara ini merupakan kolaborasi Kadin Indonesia dengan Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) dan Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA).

Johnny menjelaskan, investasi di sektor petrokimia dalam kurun waktu 20 tahun terakhir masih tergolong minim. Bahkan kapasitas produksi dalam negeri untuk bahan baku petrokimia baru mencapai 2,45 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan dalam negeri mencapai 5,6 juta ton per tahun. “Dengan kata lain, produksi dalam negeri baru memenuhi 47 persen kebutuhan domestik. Sisanya, yaitu sebesar 53 persen harus dipenuhi melalui impor,” jelas Johnny dalam keterangan pers.

Kondisi serupa terjadi pada industri methanol. Di saat kebutuhan akan methanol meningkat, Indonesia baru memiliki satu produsen yang kapasitas produksinya 660 ribu ton per tahun. Alhasil, ketergantungan impor metanol tergolong tinggi.

Nilai impor metanol mencapai 12 miliar dolar AS atau setara Rp 174 triliun per tahun. Pasalnya, methanol merupakan senyawa intermediate yang menjadi bahan baku berbagai industri, antara lain industri asam asetat, formaldehid, Methyl Tertier Buthyl Eter (MTBE), polyvinyl, polyester, rubber, resin sintetis, farmasi, Dimethyl Ether (DME), dan lain sebagainya.

Baca juga : Mantan Mentan Apresiasi Kemajuan Modernisasi Pertanian

“Pengembangan industri methanol sangat penting untuk mendukung kemandirian industri, mendukung daya saing industri nasional serta menopang pembangunan industri berkelanjutan. Di sisi ini, akan memangkas defisit neraca perdagangan yang terjadi lantaran ketergantungan tinggi pada impor,” lanjut Johnny.

Alasan lain yang mendasari strategisnya pengembangan industri methanol adalah karena beberapa produk turunannya, seperti biodiesel dan dimetil eter (DME) merupakan bahan bakar alternatif.

Dengan demikian, impor minyak yang selama ini membebani neraca dagang RI bisa dikurangi melalui pengembangan industri metanol. Lebih lagi, industri metanol akan mendukung program pemerintah, yakni pengalihan dari bahan bakar berbasis BBM ke biodiesel.

Sebaliknya, bila pengembangan industri methanol ditunda, sementara pemakaian biodiesel sebagai bahan bakar semakin berkembang, maka ketergantung impor akan semakin tinggi.

Dia juga menyebutkan sejumlah tantangan yang membutuhkan kehadiran dan peran pemerintah. Tantangan tersebut antara lain ketersedian pasokan gas jangka panjang, harga gas yang kompetitif, insentif khusus, hingga kawasan industri terpadu.

“Kita juga membutuhkan adanya keberpihakan dari pemerintah dalam mendukung pengembangan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) dan pemanfaatan produk dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri,” tandas Johnny.

Ketua Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) Ricky Hikmawan menambahkan, gas merupakan unsur penting dalam pengembangan metanol. Karena itu, kontrak jangka panjang, minimal 20 tahun, merupakan hal yang perlu difasilitasi pemerintah.

Baca juga : ICC Indonesia Hadirkan Incoterms 2020

Selain itu, harga gas yang kompetitif, di kisaran 3 dolar AS per MMBTU, akan membuat produk yang dihasilkan lebih kompetitif di pasar domestik maupun global.

Saat ini, walaupun merupakan produsen gas, harga gas di Indonesia lebih tinggi dibandingkan tetangga di Kawasan ASEAN, negara-negara di Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Hal ini berdampak pada daya saing industri methanol dan industri petrokimia serta turunannya secara umum. Dampak lanjutannya adalah industri hilir cenderung mengambil langkah impor produk jadi petrokimia.

Dia menjelaskan, Metanol merupakan produk petrokimia yang memiliki produk turunan yang bervariasi seperti polyolefin, MEG, Acetic Acid, DME/Dimethyl Ether (subtitusi LPG), Formaldehyde, MTBE/Methyl Tertbuthyl Ether (gasoline blending) dan lain sebagainya.

Indonesia saat ini masih mengimpor methanol 700 ribu ton, polyolefin 1 juta ton, MEG 400 ribu ton, dan acetic acid 60 ribu ton setiap tahunnya sehingga pembangunan pabrik methanol dan turunannya menjadi sangat penting karena pasokan methanol domestik saat ini hanya disuplai dari satu produsen saja.

Pasar metanol dunia juga akan tumbuh seiring dengan tren penggunaan energi ramah lingkungan seperti DME, MTBE, dan campuran diesel sehingga potensi ekspor metanol akan meningkat yang dapat menambah devisa.

Selain itu, industri methanol pun membutuhkan insentif fiskal berupa pengurangan PPh Badan (Tax Holiday) dan pembebasan bea masuk untuk mesin dan peralatan.

Baca juga : Indonesia Power Genjot Kapasitas Listrik PLTU Suralaya

Sedangkan kawasan industri dibutuhkan untuk memudahkan produksi dan rantai pasok, hingga penerapan kebijakan khusus dari pemerintah.

“Yang utama adalah pentingnya kawasan industri khusus industri kimia berbasis metanol. Bontang merupakan pilihan yang paling strategis saat ini,” Kata Ricky.

Ketua Umum Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA) Agus Priyatno menilai Bontang sebagai pilihan yang paling strategis sebagai kawasan industri khusus industri kimia berbasis methanol. Kota itu telah memiliki ketersediaan infrastruktur pendukung proyek, seperti lahan, utilitas, dan dermaga.

"Kondisi ini bisa memangkas biaya proyek," kata Agus. Selain itu, pabrik methanol bisa disinergikan dengan pabrik amoniak yang telah ada milik PKT Bontang. Dengan memanfaatkan ekses CO2 sebagai bahan baku metanol maka konsumsi gas akan dikurangi sebesar 3,2 MMSCFD. [JAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.