Dark/Light Mode

Green Technology Sebagai Sintesa untuk Dekonstruksi Pemikiran Antroposentrisme

Kamis, 18 April 2024 22:27 WIB
Panel surya (Foto: Dwi Pambudo/RM
Panel surya (Foto: Dwi Pambudo/RM

Green Technology Sebagai Sintesa untuk Dekonstruksi Pemikiran Antroposentrisme dan Kekhawatiran Manusia Abad 21 terhadap Dampak Kerusakan Alam yang Semakin Nyata: Manifestasi Summum Bonum Etika Lingkungan dalam Upaya Menciptakan Keberlanjutan Energi yang lebih Sehat di Masa Depan


       “Nature is not a place to visit, it is home.”

-Gary Snyder

       Alam bukanlah tempat yang kita datangi semau kita, namun alam adalah rumah kita. Kira-kira begitu makna dari perkataan seorang penyair terkenal asal Amerika yang juga seorang aktivis lingkungan. Begitu dekatnya alam dengan kita, sehingga alam diibaratkan sebagai rumah. Apakah saat ini manusia sudah menjelma sebagai makhluk hidup yang merusak rumahnya sendiri? Hal apa yang harus dipenuhi manusia sehingga merusak rumahnya sendiri? Apakah karena ingin memenuhi fantasi untuk mempunyai harta kekayaan setinggi gunung? 

Baca juga : KPK Tetapkan Bupati Sidoarjo Tersangka Dugaan Korupsi Pemotongan Insentif ASN

       Perilaku desktruktif manusia bisa ditarik dari sebuah pemikiran yang disebut antroposentrisme. Singkatnya, antroposentrisme adalah pemikiran yang menjadikan manusia sebagai pusat dari dunia ini. Jadi, apapun bisa dilakukan selama itu tidak merugikan manusia, dan mampu memberikan keuntungan untuk manusia. Dari pemikiran ini berkembang perilaku-perilaku destruktif terhadap alam, seperti eksploitasi besar-besaran terhadap alam, dan tindakan-tindakan desktruktif lainnya yang tidak memedulikan alam. Bagi antroposentrisme hal ini tidak mengapa dilakukan, karena tujuannya untuk kesejahteraan manusia semata. Bisa dibayangkan betapa destruktifnya pemikiran antroposentrisme terhadap alam maupun makhluk hidup lain selain manusia?

       Sifat egoisme yang dipuaskan oleh antroposentrisme pada akhirnya juga mencapai sebuah titik kesadaran bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia terhadap alam telah mencapai sebuah titik yang mengkhawatirkan. Earth.Org yang merupakan salah satu organisasi nirlaba terbesar di dunia yang memiliki fokus pada isu lingkungan pernah memberitakan bahwa tahun 2023 menjadi tahun terpanas yang terekam dalam sejarah. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal ini, seperti faktor alam karena El Nino, dan sudah tentu faktor penyumbangnya yang sangat besar adalah penggunaan bahan bakar fosil yang berkontribusi dalam pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. 

       Pemanasan global hanya satu dari sekian banyak contoh kerusakan-kerusakan alam akibat ulah dari ketamakan dan kerakusan manusia, ada banyak contoh yang jika dituliskan akan memakai ratusan ribu kertas. Sangat ironi bukan? Manusia mencapai titik kesadaran ketika alam sudah menunjukkan tanda bahwa ia sedang sakit. Apakah jika alam tidak pernah menunjukkan bahwa ia sedang sakit, apakah manusia tetap bisa mencapai titik kesadaran akan dibutuhkannya harmonisasi dengan alam?

       Sudah ada banyak wacana-wacana terdahulu yang selalu memberikan peringatan bahwa hendaknya kita selalu selaras dengan alam. Namun hal itu diabaikan dan mencapai awal mula kehancuran alam seiring revolusi industri berkembang, ditandai dengan eksploitasi besar-besaran terhadap alam akibat pengaruh teknologi yang masif dan canggih tanpa memikirkan jangka panjangnya.

       Pada ujungnya manusia mencari sebuah gagasan atau ide yang solutif untuk menjadi focal point dalam memenuhi kemajuan perkembangan manusia tanpa melupakan keselarasan terhadap alam, akhirnya muncul sebuah gagasan mengenai green technology. Jadi green technology merupakan ide mengenai teknologi yang ramah terhadap lingkungan. Dengan hadirnya green technology, manusia bisa tetap memenuhi hasrat untuk terus berkembang tanpa melupakan integrasi terhadap lingkungan. Green technology mampu menjadi solusi untuk mengurangi dampak terhadap perilaku-perilaku manusia akibat dari arus perkembangan teknologi yang kuat dan juga kebutuhan akan memproduksi sesuatu.

Baca juga : Badan Geologi Minta Bangunan Di Banten Gunakan Kontruksi Tahan Gempa

Green technology sebagai summum bonum?

       Secara singkat summum bonum merupakan sebuah frasa yang menggambarkan yang terbaik diantara yang paling baik, dalam konteks melihat Bumi yang semakin melarat dengan berbagai eksploitasi-eksploitasi yang terjadi, maka dengan sendirinya akan muncul sebuah pilihan yang dipandang sebagai yang terbaik diantara yang paling baik. Diantara pilihan terbaik yang ada, green technology hadir sebagai summum bonum dalam etika lingkungan yang mampu menjawab permasalahan-permasalahan akibat ulah manusia dalam mengambil keuntungan dari alam.

       Sudah menjadi fakta umum dalam isu energi bahwa penyumbang terbesar dari pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas yang lepas ke atmosfer dan menimbulkan efek rumah kaca yang melemahkan lapisan ozon, sehingga terjadi peningkatan temperatur suhu di Bumi. Dengan fakta seperti ini, diperlukan adanya alternatif energi yang memiliki dampak paling minim terhadap lingkungan. Berangkat dari green technology, hadir sebuah inovasi yang bernama renewable energy atau biasa disebut energi terbarukan.

       Energi terbarukan merupakan energi yang juga bersumber dari alam, namun tersedia secara berlimpah dan mampu dimanfaatkan secara berkesinambungan. Selain itu, energi terbarukan lebih ramah lingkungan dan juga kurang berpengaruh terhadap fluktuasi harga. Contoh energi terbarukan adalah energi surya, energi air, energi angin, dan energi panas bumi. Dari nama energinya saja, sudah bisa dibayangkan bagaimana berlimpahnya energi ini. Bahkan, laporan dari Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) di tahun 2023 mencatat bahwa Indonesia memiliki kapasitas energi terbarukan terbesar kedua di Asia Tenggara. Bayangkan jika hal ini dimanfaatkan dengan baik, berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat dari penerapan energi terbarukan ini. 

       Sayangnya, tantangan pasti selalu ditemui jika kita berorientasi pada hal yang baik, namun tidak baik bagi segelintir masyarakat kapitalis yang menganggap bahwa energi terbarukan ini sebagai sebuah ancaman. Namun, optimisme harus tetap dipertahankan. Membayangkan dunia di masa depan yang memanfaatkan energi terbarukan, tentunya akan menjamin berbagai aspek dalam masyarakat, tak lepas juga dari masyarakat Indonesia yang akan merasakan dampak dari pemanfaatan dan penyebarluasan energi terbarukan.

Baca juga : Antropokosmisme vs Antroposentrisme

       Pada akhirnya, lagi dan lagi manusia akan selalu bergantung pada alam. Sejauh apapun manusia telah merusak alam, pada akhirnya alam akan membalas dengan hukum “apa yang kamu tuai, itu yang kamu petik“. Alam selalu mengajarkan kita melalui tanda-tanda yang diberikannya. Ketika kita mampu selaras dengan alam, seperti menjaga, merawat, dan melestarikan alam. Maka tentunya alam juga akan selalu mendatangkan hal-hal baik kepada kita, namun jika sebaliknya, kita berlaku tidak adil, merusak, dan melakukan tindakan-tindakan yang mencemari alam, alam akan selalu memberikan balasan baik secara langsung maupun tidak langsung.

       Maka dari itu, mari bersama untuk selalu menjaga alam bukan hanya sebatas penerapan pada diri kita sendiri. Namun lebih bijak jika kita mampu memengaruhi orang lain juga untuk turut menjaga alam, seperti salah satu solusi green technology dalam bidang energi adalah energi terbarukan. 

       Menerapkan teknologi seperti ini tentunya secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan sebuah harapan bahwa manusia abad sekarang masih memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Kita bukan manusia yang digambarkan oleh manusia abad sebelumnya yang hadir sebagai perusak akibat masifnya teknologi. Mari rawat alam kita bersama dengan menyebarkan, memberitahukan, dan menerapkan green technology sebagai upaya menciptakan kembali Bumi yang lebih sehat dan lebih baik untuk generasi makhluk hidup yang akan datang.

Andhika
Andhika
Andhika

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.