Dark/Light Mode

Kondisi Global Sedang Tidak Baik-baik Saja

Hadapi Tantangan Berat Ekonomi Kita Melambat

Rabu, 29 Mei 2024 07:00 WIB
Kepala Centre of Digital Economy and SME’s Indef Eisha Maghfiruha Rachbini.
Kepala Centre of Digital Economy and SME’s Indef Eisha Maghfiruha Rachbini.

RM.id  Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia diprediksi bakal menghadapi tantangan berat dalam dua tahun ke depan. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah indikator ekonomi global maupun lokal yang sedang tidak baik-baik saja.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah ekonom Universitas Paramadina dan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dalam diskusi bertema “Kebangki­tan Nasional, Kebangkitan Ekonomi?” yang digelar daring, Senin (27/5/2024) sore. Acara ini dibuka oleh Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini.

Kepala Centre of Digital Economy and SME’s Indef Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, ekonomi global saat ini tidak sedang baik-baik saja. Perlambatan ekonomi dan stag­nasi global diprediksi akan terjadi sampai tahun depan. Hal tersebut akan mempengaruhi prospek suku bunga dalam negeri.

“Suku bunga global pada level tinggi akan mendorong capital outflow negara berkembang dan dampak ini juga dirasakan oleh Indonesia. Saat ini sudah kita rasakan, yakni tekanan nilai tukar rupiah menyentuh Rp 16 ribu,” kata Eisha dalam keterangan resminya, Senin (27/5/2024).

Baca juga : DKI Nonaktifkan 213 Ribu NIK

Situasi ini, lanjut Eisha, diprediksi akan terus terjadi hingga beberapa tahun ke depan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara berkembang lain yang ter­tekan akibat penguatan dolar AS.

Ekonom Universitas Para­madina Handi Risza menam­bahkan, dunia sedang dihantui tiga permasalahan utama. Yaitu inflasi tinggi, tingkat suku bunga tinggi dan pertumbuhan eko­nomi melambat.

Kondisi tersebut diprediksi akan berlangsung lama. Imbas­nya akan berdampak terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Akibat kondisi ini, pereko­nomian nasional juga diprediksi akan mengalami perlambatan,” kata dia.

Baca juga : Tim Garuda Siap Ladeni Irak

Di dalam negeri, Handi me­lihat sudah terjadi stagnasi pertumbuhan ekonomi. Rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,9 persen.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut, sulit bagi Indo­nesia naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi atau menge­jar ketertinggalan pendapatan per kapita dari negara maju. Apalagi, perekonomian domestik masih ditopang oleh sumber tradisional, yaitu konsumsi.

Untungnya, kata dia, dalam beberapa tahun terakhir terbantu dengan adanya kenaikan harga komoditas. Harga komoditas diprediksi akan kembali normal tahun ini.

Pengajar ekonomi Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, dengan situasi ekonomi terse­but, pemerintahan yang baru perlu melakukan rasionalisasi atau modifikasi program, baik itu yang warisan maupun janji kampanye.

Baca juga : Jorji Melangkah Mulus, Leo Dan Daniel Tersingkir

“Modifikasi program bisa men­cakup program pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), kelanjutan proyek kereta cepat Indonesia China, bantuan sosial ke masyarakat dan porsi utang surat ber­harga negara,” ujarnya. NOV

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Rabu, 29 Mei 2024 dengan judul "Kondisi Global Sedang Tidak Baik-baik Saja, Hadapi Tantangan Berat Ekonomi Kita Melambat"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.