Dark/Light Mode

Ekonomi RI 5 Bulan Deflasi, Bos TMMIN Minta Pemerintah Kerek Daya Beli Rakyat

Kamis, 10 Oktober 2024 13:28 WIB
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam. (Foto: Adit/RM)
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam. (Foto: Adit/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam ikut menyoroti soal ekonomi Indonesia yang alami deflasi selama 5 bulan berturut-turut.

“Deflasi itu bisa karena suplay barang berlebih atau karena permintaan melemah,” ujar Bob saat ditemui di Kawasan BSD, Tangerang, Rabu (9/10/2024) sore.

Namun, kata dia, jika melihat kondisi saat ini, deflasi bukan karena suplay barang berlebih. Menurutnya, yang terjadi adalah menurunnya permintaan karena daya beli rakyat melemah.

Baca juga : Pemerintah Kirimkan Bantuan Ke 4 Negara

Menurut Bob, dampak melemahnya daya beli rakyat adalah tidak akan ada investasi yang mau masuk ke Indonesia. Kata dia, salah satu alasan investor masuk adalah market.

“Kalau market lemah, investasi nggak akan datang dan tumbuh,” ujarnya.

Karena itu, dia meminta, Pemerintah meningkatkan daya beli rakyat. Pemerintah juga harus menahan diri tidak menambah beban rakyat dengan menaikkan pajak.

Baca juga : Hati-Hati Penipuan Berkedok Investasi, KCIC Tak Pernah Jual Beli Saham

“Justru yang harus dikeluarkan Pemerintah adalah kebijakan yang bisa merangsang daya beli rakyat,” pintanya.

Misalnya di sektor otomotif adalah dengan mengeluarkan kebijakan diskon PPNBM. Kebijakan ini terbukti ampuh kerek penjualan mobil saat pandemi. “Bahkan penerimaan Pemerintah ikut terkerek,” bebernya.

Sementara, Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto mengatakan, penurunan kelas menengah ikut berdampak pada penjualan mobil. Padahal, kata dia, penjualan mobil sedang lesu.

Baca juga : ARN: Sektor Konstruksi Penting untuk Bangkitkan Daya Beli Masyarakat

“Penurunan kelas menengah sangat berpengaruh,” katanya.

Dia pun mengutip data Gaikindo, jika penjualan mobil tahun ini masih akan diangkat 800 ribuan unit.

Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mulai mengalami deflasi pada Mei 2024 sebesar 0,03 persen. Kemudian Juni 0,08 persen, Juli 0,18 persen, Agustus 0,03 persen, dan September 0,12 persen.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.