Dark/Light Mode

Imbas Konflik Iran-Israel, ALFI Antisipasi Kenaikan Ongkos Logistik

Kamis, 19 Juni 2025 15:06 WIB
Chairman ALFI Institute Yukki Nugrahawan Hanafi. (Foto: Ist)
Chairman ALFI Institute Yukki Nugrahawan Hanafi. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Institute melihat konflik geopolitik Israel dan Iran berpotensi mendorong kenaikan ongkos logistik internasional. Karena, konflik tersebut akan semakin meluas jika aksi blokade Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah ke Asia Pasifik dilakukan.

Chairman ALFI Institute Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, saat ini para pelaku usaha di sektor transportasi dan logistik rantai pasok mengaku cemas jika skenario blokade dilakukan di Selat Hormuz yang menjadi jalur nadi distribusi energi dunia.

"Saat ini para pelaku usaha telah melakukan kalkulasi risiko melewati wilayah perairan yang berdekatan dengan Selat Hormuz. Dengan mitigasi risiko tersebut, akses dan ketersediaan logistik yang melewati perairan tersebut dapat berkurang sehingga mengganggu rantai pasok global," ujar Yukki di Jakarta, Kamis (19/6/2025).

Baca juga : Respons Kebijakan Tarif Resiprokal AS, ALFI Serukan Langkah Strategis

Untuk diketahui, Selat Hormuz merupakan titik strategis jalur distribusi energi dunia. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), rata-rata minyak mentah yang diangkut melalui selat tersebut mencapai 20 juta barel per hari atau setara dengan 30 persen total perdagangan dunia.

Pengiriman gas alam cair (LNG) yang melalui Selat Hormuz juga tercatat mencapai 20 persen porsi perdagangan global.

Yukki mengatakan, selain akses perairan yang mulai dihindari oleh para pelaku usaha logistik internasional, kenaikan harga komoditas energi akibat blokade Selat Hormuz juga turut mendorong peningkatan biaya logistik, sehingga dapat berdampak pada pengiriman ekspor impor dan daya saing produk Indonesia. "Ditambah lagi ada kekhawatiran blokade Selat Hormuz juga akan direspons oleh aksi lain di Laut Merah,” ungkapnya.

Baca juga : Nyepi, Kemenhub Imbau Masyarakat Antisipasi Penutupan Transportasi di Bali

Yukki menjelaskan, jika blokade Selat Hormuz dilakukan sebagai dampak konflik Iran terhadap Israel, kenaikan harga biaya logistik nantinya tidak hanya didorong oleh perubahan jalur perdagangan, namun juga kenaikan cost of operations akibat dari kenaikan harga komoditas energi, khususnya minyak mentah.

"Di tengah perlambatan permintaan perekonomian global akibat perang tarif sepanjang tahun 2025 ini, kenaikan biaya logistik akan memberi tekanan tambahan bagi pelaku usaha ekspor impor," jelasnya. 

Berkaca dari konflik laut merah pada periode akhir 2023 dan awal 2024 lalu, para pelaku usaha harus menanggung peningkatan biaya pengangkutan lebih tinggi serta disrupsi terhadap waktu transit pengiriman yang lebih lama.

Baca juga : Tambah SPKLU, PLN Antisipasi Lonjakan Pemudik Kendaraan Listrik

Untuk itu, kata Yukki, pelaku usaha nasional perlu waspada dan antisipatif terhadap kenaikan ongkos logistik, khususnya melihat jika eskalasi perang Israel-Iran berlangsung lebih lama dan spill-over pada jalur perdagangan utama lainnya seperti Laut Merah.

"Selain itu, rantai pasok kebutuhan nasional juga dipastikan dapat terganggu akibat penyesuaian yang dilakukan pelaku usaha akibat hambatan logistik," ucapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.