Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Harga Minyak Dunia Turun
Senin, 5 Januari 2026 09:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga minyak dunia melemah pada 5 Januari 2026 setelah operasi militer Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. AFP melaporkan, penurunan harga minyak yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir ini antara lain dipicu oleh potensi meningkatnya pasokan minyak Venezuela ke pasar global, sehingga menambah kekhawatiran kelebihan pasokan.
Dalam perdagangan pagi di Asia, Brent Crude turun 0,21 persen menjadi 60,62 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate turun 0,35 persen menjadi 57,12 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi di saat keduanya telah pulih dari titik terendah sebelumnya.
Baca juga : Tangkap Presiden Venezuela, Trump Gegerkan Dunia
Potensi meningkatnya pasokan minyak Venezuela ke pasar global ini mencuat, setelah Trump memastikan AS akan memimpin Venezuela dan mengambil alih bisnis minyak di negara tersebut, pasca penangkapan Maduro dan istri.
Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida pada Sabtu (3/1/2025), Trump mengumumkan akan segera mengirim perusahaan-perusahaan minyak besar AS untuk masuk dan menginvestasikan miliaran dolar AS di Venezuela. Serta memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, untuk menghasilkan uang di negara dengan cadangan minyak terbesar dunia.
Baca juga : PM Malaysia Minta AS Segera Bebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro & Istri
Venezuela yang telah bertahun-tahun dililit sanksi dan minim investasi, kini hanya memproduksi minyak dengan jumlah yang sedikit. Hanya sekitar 1 juta barel per hari. Turun dari sekitar 3,5 juta barel per hari pada tahun 1999.
Namun, para analis menilai, peningkatan produksi minyak secara substansial tidak akan berjalan mudah atau cepat. "Setiap pemulihan produksi akan membutuhkan investasi besar, mengingat infrastruktur yang runtuh akibat bertahun-tahun salah urus dan kurangnya investasi," kata analis UBS, Giovanni Staunovo kepada AFP.
Baca juga : China Kutuk Keras Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Oleh AS
Berinvestasi saat ini juga kurang menarik. Pasalnya, harga minyak tertekan oleh kelebihan pasokan dan turun pada tahun 2025. Selain itu, perang tarif Trump dan konflik yang sedang berlangsung di Ukraina, juga ikut menjadi kontributor hambatan pertumbuhan yang signifikan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya