Dark/Light Mode

Pastikan Tidak Ganggu Stok Nasional

Bulog Siap Ekspor Beras Premium Satu Juta Ton

Rabu, 14 Januari 2026 06:30 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/RM.ID)
Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/RM.ID)

 Sebelumnya 
Selain itu, Harga Pembelian Gabah (HPP) tetap dipedomani sebesar Rp 6.500 per kilogram/kg Gabah Kering Panen (GKP), serta diperkuat dengan transformasi sistem pembayaran hasil panen petani secara digital. 

“Pembayaran nanti secara digital. Kami sinergi dengan Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), guna menjamin transparansi, akurasi dan perlindungan harga di tingkat petani,” jelasnya. 

Rizal menekankan strategi ke depan bertumpu pada kolaborasi lintas sektor, sehingga kola borasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk TNI, Polri, Babinsa (Bintara Pembina Desa), Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), serta Penyuluh Pertanian Lapangan, akan terus diperkuat. 

“Ini bentuk komitmen kami menjaga kesinambungan swasembada pangan dan memastikan kemandirian pangan nasional berjalan berkelanjutan sepan jang tahun 2026,” tutupnya. 

Terpisah, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menyampaikan, setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pencapaian swasembada beras, di Karawang, Jawa Barat, pada 7 Januari 2026, para pelaku usaha atau industri menunggu kebijakan selanjutnya soal perberasan tahun ini. Khususnya terkait kebijakan pembelian GKP. 

Baca juga : BLT Masih Jadi Bantalan Untuk Kelompok Rentan

“Kebijakan pembelian GKP semua kualitas itu, memang menguntungkan petani. Namun harapannya, petani tetap diarahkan untuk memproduksi gabah berkualitas agar juga memudahkan Bulog dalam penyerapan,” kata Khudori kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Selain itu, pelaku usaha seperti pedagang grosir, distributor besar dan pedagang pasar induk juga menunggu soal mekanisme operasi pasar dalam penyaluran beras SPHP. Begitu juga kebijakan lainnya terkait beras. 

Sebab, beras adalah komoditas strategis bagi Indonesia, tidak saja dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya, juga politik. 

Terkait rencana Indonesia mengekspor beras, Khudori meyakini hal tersebut sangat memung kinkan dilakukan Bulog. 

“Tidak masalah kalau Bulog mau ekspor, stok yang ada saat ini juga besar,” terangnya. 

Baca juga : Polda Metro Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Ia mengakui, produksi beras pada 2025 tergolong luar biasa. Merujuk rilis BPS (Badan Pusat Statistik), 5 Januari 2026, produksi beras 2025 diperkirakan 34,71 juta ton, naik 13,36 persen dari 2024. 

Jumlah itu, kata dia, adalah produksi tertinggi sejak 2018. Lalu, lompatan 13,36 persen setahun itu juga yang tertinggi sejak 2018. Bahkan, surplus tahunan 3,81 juta ton merupakan angka tertinggi sejak 2019. 

Hanya kalah dari surplus tahunan 2018 sebesar 4,7 juta ton beras. 

“Kenaikan produksi ini karena ada penambahan luas panen seluas 1,29 juta hektar (ha),” katanya. 

Selanjutnya, merujuk rilis BPS, 5 Januari 2026, produksi beras di Januari dan Februari 2026 diperkirakan 1,8 juta ton dan 2,98 juta ton. 

Baca juga : Kesabaran Madrid Setipis Tisu, Alonso Dipecat Karena Drama

Ia menambahkan, perkiraan produksi Januari 2026 juga akan tertinggi sejak 2018, dan produksi Februari 2026 tertinggi sejak 2019. 

“Cuaca yang baik, juga potensial membuat produksi setelah Februari 2026 tetap naik,” tukas Khudori. [IMA]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.