Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Akindo Siap Dukung Pemerintah Jaga Stok Kedelai Jelang Ramadan Hingga Idul Fitri
Kamis, 12 Februari 2026 08:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah memastikan kondisi neraca pangan nasional berada dalam keadaan aman dan surplus hingga akhir Maret 2026.
Kepastian ini ditopang oleh proyeksi stok awal tahun yang berasal dari produksi dalam negeri berbagai komoditas pangan strategis, sehingga diyakini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Selasa (3/2/2026) lalu, menyampaikan bahwa berdasarkan proyeksi neraca pangan nasional tahun 2026, ketersediaan pangan strategis utama berada dalam kondisi mencukupi.
Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, kedelai, daging sapi dan kerbau, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula konsumsi, serta aneka cabe.
Baca juga : Food Station Pastikan Stok Pangan Ramadan dan Idulfitri 2026 Aman
Khusus untuk komoditas kedelai, ketersediaan nasional tercatat sekitar 629 ribu ton dengan kebutuhan konsumsi sebesar 453,9 ribu ton. Dengan demikian neraca kedelai hingga akhir Maret 2026 masih berada pada posisi surplus sekitar 176 ribu ton.
Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) menyatakan kesiapan mendukung pemerintah dalam menjaga ketersediaan kedelai nasional selama Ramadan dan Idul Fitri .
“Menjelang, selama, dan pasca bulan puasa Ramadan dan Idul Fitri stok kedelai di dalam negeri selalu tersedia. Rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,5 bulan, khususnya bagi perajin tempe dan tahu nasional,” ujar Ketua Akindo Hidayatullah Suralaga, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Hidayat mengungkapkan, bahwa konsumsi kedelai nasional saat ini diperkirakan sekitar 2,7-2,9 juta ton per tahun.
Baca juga : Dharma Jaya Stok Ribuan Ton Daging dan Sapi Hidup Selama Ramadan dan Idul Fitri
Sekitar 90 persen kebutuhan kedelai tersebut dipenuhi dari impor dan sisanya berasal dari produksi dalam negeri.
Berdasarkan data yang ada dan pengalaman selama ini, lanjut Hidayat, pada Ramadan dan Idul Fitri tahun sebelumnya tidak terjadi peningkatan kebutuhan kedelai dalam negeri, yaitu rata-rata 220 ribu ton per bulan.
“Bahkan berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) justru terjadi penurunan permintaan hingga mencapai 30 persen. Hal ini karena sebagian perajin tahu dan tempe terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai pulang kampung sekitar 2 minggu menjelang Hari Raya dan kembali sekitar 2 minggu setelahnya “ kata Hidayat.
Hidayat menambahkan, bahwa harga kedelai di tingkat perajin tahu-tempe di beberapa daerah seperti Surabaya, Jember, Malang, Bondowoso, Situbondo, Blitar, Ponorogo, dan Tuban masih berada di kisaran Rp10.000 per kilogram ke bawah.
Baca juga : Tak Perlu Khawatir, Stok LPG dan BBM Aman Jelang Ramadan dan Lebaran
“Secara umum, harga di tingkat perajin masih dalam rentang yang relatif wajar,” ujar Hidayat.
Dengan memperhitungkan harga jual di tingkat importir ditambah biaya transportasi dan distribusi dari pelabuhan hingga sampai ke perajin, Akindo menilai bahwa harga kedelai di tingkat konsumen di berbagai wilayah di Jawa Timur tersebut dalam batas yang dapat dipahami secara ekonomi.
Akindo terus bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan memastikan kelancaran distribusi, ketersediaan stok serta berusaha menjaga stabilitas harga demi keberlangsungan usaha perajin tahu-tempe nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya