Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rupiah Rp 17.800-IHSG 6.000, Kepercayaan Investor Ke Indonesia Pulih Lagi
Sabtu, 13 Juni 2026 08:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak menguat sepanjang perdagangan Jumat (12/6/2026). Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia pulih lagi.
Rupiah ditutup menguat 128 poin menjadi Rp 17.860 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp 17.988 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda tersebut sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah naik 0,29 persen ke level Rp 17.937 per dolar AS.
Sejalan dengan penguatan rupiah, IHSG juga mencatat kinerja positif dengan naik 121,62 poin atau 2,07 persen ke level 6.007,66 pada penutupan perdagangan. Pada awal sesi, indeks sudah menguat 1,26 persen ke posisi 5.960.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelaku pasar dan investor yang terus memberikan kepercayaan kepada pasar modal Indonesia.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelaku pasar dan investor yang terus menaruh kepercayaan tinggi pada pasar modal Indonesia, dan secara khusus pada saham-saham BUMN," kata Dony di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Baca juga : Tidak Alergi Kritik, Prabowo: Saya Percaya Pada Demokrasi
Menurut dia, kontribusi saham-saham BUMN terhadap penguatan IHSG mencerminkan keberhasilan transformasi dan penguatan fundamental bisnis yang selama ini dijalankan perusahaan-perusahaan pelat merah.
Ia menilai, capaian tersebut bukan sekadar respons jangka pendek pasar, melainkan bentuk pengakuan investor terhadap upaya peningkatan tata kelola, efisiensi operasional, serta strategi pertumbuhan yang dijalankan BUMN.
Dony mengatakan, momentum positif ini menunjukkan bahwa berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah dan otoritas terkait berada pada jalur yang tepat. Stabilitas ekonomi dan pasar keuangan menjadi modal penting untuk menarik investasi berkualitas dan memperkuat daya saing nasional.
Menurut dia, manfaat dari stabilitas tersebut tidak hanya dirasakan investor, tetapi juga masyarakat luas melalui terjaganya daya beli, terkendalinya biaya kebutuhan pokok, serta terbukanya peluang kerja baru dari masuknya investasi.
"Hilangkan keraguan, mari bersama-sama kita jaga optimisme," ujarnya.
Baca juga : Hemat Anggaran MBG, BGN Bakal Kurangi SPPG
Ia menambahkan, penguatan IHSG dan rupiah tidak terlepas dari sinergi kebijakan pemerintah dan otoritas terkait, termasuk langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.
Sementara itu, BI mencatat aliran modal asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik setelah kenaikan suku bunga acuan tersebut.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, respons positif investor asing tercermin dari meningkatnya arus modal ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN).
"Pasca kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut," ujar Denny di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Berdasarkan data BI, aliran modal asing meningkat pada instrumen SRBI setelah pelaksanaan lelang pada 10 Juni 2026. Investor asing juga mulai kembali melakukan pembelian SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah.
Baca juga : Polisi Berjaga Tanpa Senpi, Demo Mahasiswa Ajukan 5 Tuntutan
BI memastikan, akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta menjaga daya tarik instrumen keuangan nasional guna mendukung masuknya modal asing.
Kata dia, BI juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik secara konsisten dan terukur.
Di sisi lain, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie menilai, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal positif bahwa pasar melihat ketahanan ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain yang juga menghadapi tekanan global.
Menurut Anin, di tengah penguatan dolar AS, volatilitas pasar keuangan global, dan kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi, fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai kuat. Karena itu, dunia usaha mendorong peningkatan investasi dan perdagangan untuk memperkuat posisi rupiah secara berkelanjutan melalui peningkatan arus devisa dari investasi dan ekspor.
“Ini akan membuat penguatan jangka panjang," ujar Anin. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya