Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Punya Daya Tahan Di Tengah Tekanan Global
Mandiri Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,34 %
Sabtu, 5 September 2026 06:40 WIB
Bank Mandiri Tumbuh Solid
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, kondisi ekonomi yang tetap resilient menjadi landasan bagi perseroan untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkualitas.
Hal ini tercermin dari penyaluran kredit bank only yang tumbuh 19,9 persen yoy menjadi Rp 1.592 triliun per Juni 2026, melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri sebesar 12,7 persen yoy.
Sedangkan laba bersih konsolidasi perseroan mencapai Rp 30,4 triliun, tumbuh 24,4 persen yoy.
Baca juga : Hanya Mitra Bisnis, Beijing Jaga Jarak Dengan Teheran
Pertumbuhan kredit masih didominasi segmen korporasi yang tumbuh sekitar 20 persen. Sedangkan pertumbuhan kredit konsumer dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) relatif melambat.
Dari sisi kualitas aset, Non Performing Loan (NPL) tertinggi masih berada di segmen UMKM dan ritel, meski pergerakannya mulai menunjukkan stabilisasi.
Ari menambahkan, pada semester II-2026, Bank Mandiri akan melanjutkan pertumbuhan bisnis dengan tetap menjaga kualitas kredit.
“Kami ingin penyaluran kredit yang tumbuh kuat dan berkualitas, serta terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis Pemerintah dalam menggerakkan sektor riil,” kata Ari.
Baca juga : Cadangan Air DKI Masih Aman Hingga Akhir 2026
Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri tercatat Rp 1.710 triliun atau tumbuh 17,1 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK industri sekitar 10,2 persen yoy.
Sementara Dian menilai, perbaikan permintaan domestik diharapkan membuat pertumbuhan kredit ke depan lebih merata. Namun, likuiditas masih menjadi perhatian di sektor perbankan.
“Likuiditas masih menjadi isu utama di sektor perbankan. Dalam beberapa bulan terakhir, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat dan berada di kisaran 88 persen,” ucapnya.
Dian menekankan, semester I-2026 cukup menantang akibat faktor global, defisit perdagangan pada Mei dan Juni, serta capital outflow. Namun, likuiditas perbankan diperkirakan berangsur membaik pada semester II-2026.
Baca juga : Kenangan Buruk Si Ular
“Tentu harus didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang diharapkan dapat membantu likuiditas perbankan dan mendorong pertumbuhan kredit ke depan,” tukas Dian. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya