Dark/Light Mode

Subsidi BBM Perlu Dialihkan ke Sektor Produktif 

Selasa, 19 Mei 2020 06:01 WIB
Aktivitas di SPBU/Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Aktivitas di SPBU/Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Subsidi BBM yang tinggi membebani APBN sekaligus bisa membuat warga boros dan manja. Pengalaman nyata dialami Venezuela. Pada tahun 2000-2013, Venezuela terkenal sebagai “surga dunia”, ketika subsidi BBM di sana menjadikan harga bensin begitu murah. Pada Juni 2013, harga bensin di sana sempat mencapai 1 sen USD atau sekitar Rp 140 per liter. Di Venezuela, harga bensin bahkan lebih murah daripada air mineral karena ada bantuan subsidi pemerintah untuk BBM.  

Tragisnya, kenikmatan subsidi itu dibayar sangat mahal ketika Venezuela dilanda krisis ekonomi sejak 2014. Kondisi Venezuela yang semula jadi “surga dunia” berubah 180 derajat dari menjadi “neraka dunia”. Tentu ini menjadi warning bagi Indonesia. Besarnya subsidi yang tidak tepat sasaran dapat menimbulkan jebakan yang berbahaya seperti yang dialami Venezuela.  

Menurut data Kementerian Keuangan, pada 2011, subsidi BBM mencapai Rp 165,2 triliun. Pada 2012 meningkat tajam menjadi Rp 211,9 triliun. Pada 2013 terjadi sedikit penurunan menjadi Rp 210 triliun, namun biaya ini meningkat kembali pada 2014 menjadi Rp 240 triliun. Tingginya jumlah subsidi BBM pada 2014 ini dinilai tidak produktif dan tidak berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.  

Berita Terkait : Penurunan Harga BBM Akan Sangat Membantu Sektor UMKM

Ekonom Institute for Development of Economics and Finanance (Indef) Uchok Pulungan mengingatkan, harga BBM murah juga bisa membuat program energi alternatif selain fosil menjadi lambat. “Memang, ada tendensi kalau harga BBM murah insentif untuk mengembangkan energi altenatif jadi tidak menarik. Itu yang selama ini terjadi. Tapi, saat harga BBM naik, baru kita panik,” papar Uchok.   

Uchok menilai, dalam penentuan harga BBM, perlu mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Memang, ada koreksi harga niai tukar dan juga penurunan harga minyak, namun tetap harus hati-hati dalam mengambil kebijakan harga BBM.   

Ia mengingatkan, saat ini lebih penting mendorong daya beli masyarakat tetap terjaga agar ekonomi lebih berputar dan konsumsi rumah tangga tidak anjlok. Caranya, menekan inflasi pangan lewat operasi pasar di daerah, juga memastikan THR terhadap para pekerja dibayarkan. Pengalaman pahit Venezuela telah memberikan pelajaran bahwa kebijakan populis yang memanjakan warga dengan aneka subsidi terbukti tidak produktif dan bisa menjerumuskan negara dalam krisis ekonomi. 

Baca Juga : Karena Usia, Pak Kiai Di Rumah Saja

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Febby Tumiwa menerangkan, saat ini, untuk BBM subsidi diberikan pada solar dan minyak tanah. Di APBN 2020, besarnya Rp 18,7 triliun. Yang juga besar adalah subsidi LPG 3 kg, senilai Rp 49,4 triliun. 

“Subsidi ini memang perlu dipangkas secara bertahap dan dialihkan kepada sektor lain yang produktif. Tetapi, pengalihan tersebut harus memastikan bahwa masyarakat miskin tetap bisa mendapatkan energi dalam jumlah yang cukup dan berkualitas,” ujar Febby.  

Febby menambahkan, pemerintah juga tidak perlu terburu-buru merevisi harga BBM. Sebab, harga minyak saat ini volatile dan tidak mencerminkan keekonomian yang wajar. Penyebabnya, adalah permintaan turun drastis dalam waktu singkat tapi tidak diikuti dengan penurunan pasokan. Terjadi kondisi oversupply sehingga mengakibatkan lonjakan permintaan storage dan mengakibatkan inventory meningkat. 

Baca Juga : Pilih Damai, Presiden Afghanistan Dan Oposisi Berbagi Kekuasaan

“Tidak banyak yang bisa dilakukan Pertamina karena tidak bisa menciptakan permintaan dalam jangka pendek. Yang bisa dilakukan adalah pengelolaan inventory, mengendalikan produksi minyak mentah dan  produksi kilang,” ucap Febby.

Sebelumnya, pengusaha Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Suryo Bambang Sulistyo, juga mengingatkan, subsidi kepada BBM hanya membuat warga Indonesia menjadi boros dan manja. Menurut dia, masyarakat selalu punya keinginan untuk berpergian dengan menggunakan kendaraan pribadi karena harga bensin murah. [USU]