Dark/Light Mode

Ditopang Industri Makanan

BKPM Ramal Sektor Manufaktur Meroket

Kamis, 28 Mei 2020 07:57 WIB
Industri manufaktur diprediksi bakal kembali bergairah.
Industri manufaktur diprediksi bakal kembali bergairah.

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, selama 5 tahun terakhir realisasi investasi di sektor manufaktur mencapai Rp 1.348,9 triliun. Investasi di industri makanan jadi yang paling potensial di sektor ini. 

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Farah Indriani mengatakan, meski banyak tantangan di era kemajuan teknologi digital dan internet, namun investasi di sektor manufaktur masih berpotensi besar untuk jauh lebih meningkat. 

“Angka-angka ini menjadi refleksi bahwa tidak bisa dipungkiri jika pasar domestik Indonesia adalah magnet investasi di sektor manufaktur. Ke depan, kita optimis sektor manufaktur makin berkembang,” kata Farah dalam keterangan resmi BKPM, kemarin. 

Baca Juga : Lagi Gini Ributin Hantu PKI, Untungnya Apa?

Diterangkannya lebih rinci, sektor utama yang paling diminati dan menjanjikan adalah industri makanan yang investasinya mencapai Rp 293,2 triliun, atau setara dengan 21,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dengan persentase total investasi sebanyak 21,7 persen. 

Baru disusul kemudian oleh industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya yang menunjukkan peningkatan pada tahun 2019 dan triwulan I- 2020 dengan total investasi mencapai Rp 266,7 triliun, atau setara 19,4 miliar dolar. Selanjutnya, ada industri kimia dan farmasi berada di peringkat ketiga dengan nilai investasi Rp 243,9 triliun atau setara 18,1 miliar dolar. 

“Di antara sektor lainnya di atas, hanya industri makanan yang porsi PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) lebih besar dari PMA (Penanaman Modal Asing). Di sini kita yakin kalau industri ini akan cukup stabil dari guncangan ekonomi dunia,” ujar Farah. 

Baca Juga : Prinsip Satu Negara 2 Sistem Bisa Ambyar

Ia melanjutkan, dengan adanya kemajuan teknologi dan internet, proses produksi ke depan juga akan lebih efisien. “Di samping itu, Indonesia juga memiliki keunggulan dari letak geografis dan pasar domestik sehingga dapat dijadikan hub manufaktur di wilayah ASEAN. Ini juga jadi daya tarik bagi investor,” tegas Farah. 

Meskipun data realisasi investasi BKPM untuk sektor industri makanan pada 5 tahun terakhir menunjukkan adanya fluktuasi, namun kata Farah, secara rata-rata mengalami kenaikan sebesar 3 persen per tahun dan tetap berada pada peringkat teratas total realisasi investasi sektor sekunder. 

Pada tahun 2017, industri makanan mencapai puncak tertinggi dengan total investasi mencapai Rp 64,8 triliun atau senilai 4,86 miliar dolar. Sementara, realisasi investasi industri logam dasar pada 5 tahun terakhir meskipun tidak selalu menjadi yang teratas, menunjukkan potensi besar yang terlihat dari rata-rata pertumbuhannya mencapai 11 persen per tahun. 

Baca Juga : Ingat, Dulu Virus Spanyol Meledak Di Gelombang 2

“Kalau kita merunut data industri makanan, memang kenaikannya tak sebanyak investasi industri logam dasar tapi tetap potensial. Kenaikan investasi di industri logam dasar juga merupakan sinyal bahwa pembangunan industri kita berjalan dengan cepat. Indonesia tetap dipercaya oleh investor dari luar dan dalam negeri” jelas Farah. 

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Rachmat Hidayat mengatakan, di masa pandemi, pertumbuhan bisnis industri makanan dan minuman masih mampu tumbuh positif. 

“Bisnis kita masih mampu tumbuh positif 5 persen. Kondisi ini masih lebih baik dibandingkan dengan sektor industri lainnya yang tumbuh negatif,” ujar Rachmat. [NOV]