Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menteri ESDM dan Dirut Pertamina Di Webinar RM-SRE ITB
Corona Berkah Bagi Energi Baru Terbarukan
Selasa, 11 Agustus 2020 07:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Seminar virtual mengenai Energi Baru Terbarukan (EBT) yang digelar rakyat Merdeka dan Society of Renewable Energy (SRE) ITB sesi I sukses digelar, kemarin. Dua narasumber: Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Dirut Pertamina Nicke Widyawati tampil memukau. Keduanya sepakat, bahwa pandemi corona ini membawa berkah bagi EBT. Progres bauran EBT yang ditargetkan 23 persen dalam energi primer nasional, kini tengah menuju garis finish.
Kegiatan yang diinisiasi Rakyat Merdeka dan Society of Renewable Energy Institut Teknik Bandung (SRE ITB) ini sangat diminati mahasiswa. Peserta yang mayoritas mahasiswa yang hadir mencapai 45 ribu. Bukan hanya di dalam negeri, mahasiswa yang tengah menimba ilmu di negara lain pun, turut berpartisipasi dalam acara ini.
Baca juga : Milenial Jadi Faktor Penting Pengembangan Energi baru
Karena pesertanya milenial, pembahasan seminar yang dimoderatori oleh Wartawan Senior Rakyat Merdeka Kiki Iswara dan Founder SRE ITB Zagy Yakana Berian ini, dikemas sedemikian ciamik. Misalnya, Arifin yang mengambil judul Transformasi Melintasi Batas Generasi, Tetap Optimis di Tengah Krisis. Sementara nicke yang memilih berbicara Tantangan Masa Depan di Tangan Generasi Milenial. Meski keduanya terbilang “generasi kolonial”, tapi mereka membalut presentasinya dengan gaya milenial.
Dimulai dari Arifin. Eks Duta Besar RI untuk Jepang ini menjelaskan perjalanan EBT sejak tahun 1997 hingga 2018. “Kita bisa lihat perkembangan transformasi ini. dengan Protokol Kyoto 1997 dan Paris Agreement 2015, keinginan untuk mengurangi kenaikan temperatur 2 derajat itu menjadi obsesi semua negara. Perubahan tekno logi sangat cepat, dan ini harus kita antisipasi,” terangnya.
Baca juga : Di Webinar TMP, Teten Beberkan Strategi Bantu UMKM di Tengah Pandemi
Kondisi ini membuat pemerintah Indonesia berkomitmen di sektor energi. Mitigasi pun dilakukan. Salah satunya dengan mengalihkan anggaran subsidi bahan bakar ke kegiatan yang lebih produktif, alias pembangunan infrastruktur. Targetnya tak muluk-muluk, yakni pada 2025 EBT sudah masuk dalam campuran energi primer nasional mencapai 23 persen.
Kata Arifin, komitmen itu dibuktikan dengan menyulap sampah menjadi bahan baku energi listrik atau lebih dikenal dengan waste-to-energy. Hasilnya cukup memuaskan. Saat ini, penerapan EBT berhasil memangkas emisi gas rumah kaca sebanyak 314 juta ton karbon dioksida.
Baca juga : Restrukturisasi Pertamina Perkuat Pengelolaan Energi Nasional
Itu baru dari sampah. Eks Dirut Pupuk Indonesia itu membeberkan, potensi EBT yang dimiliki Indonesia mencapai 417,8 gigawatt (GW), namun belum dimaksimalkan dengan baik. Seperti energi samudra 17,9 GW namun masih nol persen yang dimanfaatkan. Panas bumi yang potensinya 23,9 GW baru di manfaatkan 8,9 persen, bio energi baru 5,8 persen dari 32,6 GW.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya