Dark/Light Mode

Utang Luar Negeri Indonesia Turun, Alhamdulillah Strukturnya Sehat

Senin, 15 Maret 2021 10:46 WIB
Ilustrasi utang luar negeri (Foto: Net)
Ilustrasi utang luar negeri (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Januari 2021, tercatat sebesar 420,7 miliar dolar AS atau Rp 6.055,76 triliun. Terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan Bank Sentral) sebesar 213,6 miliar dolar AS atau Rp 3.074,66 triliun dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 207,1 miliar dolar AS atau Rp 2.981,10 triliun. 

Dengan perkembangan tersebut, ULN Indonesia pada akhir Januari 2021 tumbuh sebesar 2,6 persen (yoy). Turun, bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya, yang mencapai 3,4 persen (yoy).

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ULN tersebut terjadi pada ULN pemerintah dan ULN swasta.

Baca juga : Bintang NBA Dan WNBA Latih Putra Putri Indonesia Secara Virtual

ULN Pemerintah bulan Januari 2021 tumbuh lebih rendah. Posisi ULN pemerintah pada Januari 2021 mencapai 210,8 miliar dolar AS, atau tumbuh 2,8 persen (yoy). Lebih rendah dibanding pertumbuhan pada Desember 2020, yang mencapai 3,3 persen (yoy).

"Perlambatan pertumbuhan ini disebabkan oleh pembayaran pinjaman bilateral dan multilateral yang jatuh tempo," kata Erwin dalam keterangannya, Senin (15/3).

Sementara itu, posisi surat utang Pemerintah masih meningkat seiring penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi dolar AS dan Euro di awal tahun. Di tengah momentum likuiditas di pasar global yang cukup tinggi, serta sentimen positif implementasi vaksinasi Covid-19 secara global.

Baca juga : Habis Keok Beruntun, Alhamdulilah Rupiah Bangkit Lagi

Perkembangan ULN juga didorong aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik yang meningkat. Didukung oleh kepercayaan investor asing, yang terjaga terhadap prospek perekonomian domestik.

"ULN pemerintah dikelola secara terukur dan berhati-hati untuk mendukung belanja prioritas pemerintah," ujar Erwin.

Belanja prioritas pemerintah yang dimaksud antara lain meliputi sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,6 persen dari total ULN Pemerintah), sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,1 persen), sektor jasa pendidikan (16,2 persen), sektor konstruksi (15,2 persen), dan sektor jasa keuangan dan asuransi (13,0 persen).

Baca juga : Alhamdulillah 1,1 Juta Dosis Vaksin AstraZeneca Telah Tiba Di Tanah Air

ULN swasta tumbuh melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Pertumbuhan ULN swasta pada akhir Januari 202,  tercatat 2,3 persen (yoy). Lebih rendah dibanding pertumbuhan pada bulan sebelumnya, yang mencapai 3,8 persen (yoy).

Perkembangan ini didorong oleh perlambatan pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK), serta kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan (LK) yang lebih dalam.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.