Dark/Light Mode

Pastikan Ekonomi Sudah Normal Lagi

Sri Mulyani Tak Mungkin Asbun

Selasa, 4 Mei 2021 07:35 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Facebook @smindrawati)
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Facebook @smindrawati)

 Sebelumnya 
Menurut Agus, PMI Indonesia yang tengah ekspansif merupakan salah satu indikator perekonomian yang semakin membaik. Selain itu, juga menggambarkan kepercayaan dunia usaha dan industri terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai sudah on the track.

Bagaimana tanggapan analis soal pernyataan Sri Mulyani ini? Direktur Ekonomi IHS Markit, Andrew Harker mengatakan, produksi manufaktur Indonesia yang terus meningkat sejalan dengan ekspansi permintaan baru yang sangat kuat. Yang menggembirakan, total bisnis baru didukung kenaikan ekspor, pertama kalinya sejak pandemi melanda. “Hal ini juga menunjukkan permintaan internasional menunjukkan tanda-tanda perbaikan,” tuturnya.

IHS Markit juga optimistis level ekspansi akan terus terjadi ke depannya. Hal ini dibarengi dengan program vaksinasi dan harapan pandemi akan berakhir pada tahun mendatang, serta memungkinkan kenaikan lanjutan pada permintaan baru.

Baca juga : Bank Mandiri Layani Transaksi Keuangan KPKNL

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah punya pandangan berbeda. Menurutnya, ekonomi sudah membaik, tapi belum normal selagi masih terjadi pandemi yang membatasi aktivitas masyarakat. Indikatornya, terlihat dari konsumsi, investasi, dan kinerja impor.

Sederhananya, kata Piter, jika ekonomi mau normal, syarat utamanya selesaikan pandemi. Dengan kondisi saat ini, ia memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran 3-4 persen. Itupun dengan asumsi tidak terjadi gelombang kedua.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira juga meminta Sri Mulyani tidak terburu-buru menyebut ekonomi sudah normal. Kuartal I tahun ini saja, ekonomi masih mengalami resesi. Jika dicermati, persoalan inflasi juga terletak dari sisi permintaan. “Adapun inflasi april sebesar 0,13 persen itu wajar, karena faktor musiman atau seasonal Ramadan,” cetusnya.

Baca juga : Pengetatan Mudik Sudah Tepat, Masyarakat Harus Ikut Aturan

Soal industri manufaktur, Bhima ragu angka PMI bisa melakukan ekspansi untuk memenuhi ekspor atau permintaan domestik. Alhasil, ia memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I masih minus 1 persen. Dengan begitu, target pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen tahun ini, sulit tercapai.

“Faktor mobilitas yang belum kembali ke baseline dan pelarangan mudik Lebaran masih jadi penghambat laju konsumsi domestik,” bebernya.

Selain itu, belanja pemerintah yang serapannya cenderung rendah juga tidak bisa diharapkan bagi ekonomi yang sedang butuh stimulus fiskal. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.