Dark/Light Mode

ICFBE 2021

Perusahaan Keluarga Dominasi Ekonomi Dunia

Senin, 1 Nopember 2021 13:32 WIB
Acara International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) 2021. (Foto: ist)
Acara International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) 2021. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - President University (PresUniv) menyelenggarakan International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) 2021. Ini adalah tahun ke-5 penyelenggaraan ICFBE sejak 2017. 

Pada tahun ini, konferensi internasional ini dilakukan secara hybrid. Sebagian kecil panitia menempati lokasi di Hotel Grand Inna Kuta di Badung, Denpasar, Bali, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sementara, ratusan peserta dan pembicara lainnya hadir secara online.

Acara ini yang digelar 26 Oktober 2021 lalu ini dihadiri pembicara yang berasal dari pemerintahan, akademisi, dan dunia bisnis. Di antaranya, Gubernur Bali I Wayan Koster; Professor of Management Catholic University of Korea, Prof. Ki-Chan Kim; Professor Art & Cultural Leadership dari University of South Australia, Prof. Ruth Rentschler.

Lalu Chairman Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani; founder PT Mandaya Sehat Dr. Edhijanto W. Taufik; pemilik PT Kutus Kutus Herbal, Servatius Bambang P.

Berita Terkait : Presiden Sebut Penguatan Kerja Sama Kunci Pemulihan Ekonomi

Rektor PresUniv, Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto mengatakan, pada ICFBE 2021, PresUniv kembali berkolaborasi dengan Universitas Dhyana Pura, Bali, dan Indonesia Strategic Management Society (ISMS).

“Melalui ICFBE 2021, saya berharap kita dapat saling bertukar informasi, berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta hasil riset tentang bagaimana perusahaan- perusahaan keluarga dapat bertahan dan memulihkan dirinya dari ancaman pandemi Covid-19,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (1/11).

Untuk tahun ini, ICFBE memilih tema On the Path to Recovery: Leadership, Resilience and Creativity. Tema tersebut dipilih karena saat ini masih banyak perusahaan, termasuk perusahaan keluarga, yang tengah berjuang untuk memulihkan diri setelah selama hampir dua tahun diterjang pandemi Covid-19. 

“Di sini, kepemimpinan (leadership), daya tahan (cesilience) dan kreativitas (creativity) betul-betul diuji dan memainkan peran yang sangat penting,” ungkap Jony.

Berita Terkait : Wapres Dorong Manfaatkan Peluang Ekonomi Syariah

Dalam paparannya, Jony mengutip riset McKinsey (2014) yang menyebut pentingnya peran perusahaan keluarga dalam perekonomian dunia. Menurut McKinsey, 80 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara di dunia ternyata berasal dari perusahaan keluarga. 

Lalu, dari seluruh perusahaan yang ada di dunia, 60 persennya masih dimiliki oleh keluarga. Mereka ini memainkan peran penting, karena rata-rata perusahaan keluarga mampu membukukan pendapatan 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 14,5 triliun. 

Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, saat ini bisnis rintisan atau startup tumbuh bak jamur di musim hujan. Maraknya bisnis startup saat ini pun tak lepas dari peran perusahaan keluarga. 

Sekitar 85 persen startup ternyata mendapatkan modal pertamanya dari bisnis keluarga. Kini, sejumlah bisnis rintisan telah berkembang menjadi Unicorn, dan bahkan Decacorn. 

Berita Terkait : Gandeng Perusahaan Korsel, Zebra Nusantara Bakal Ekpansi Bisnis Alkes

Kehadiran startup tersebut diharapkan mampu menginspirasi banyak perusahaan. Termasuk perusahaan keluarga, untuk menjadikan krisis justru sebagai peluang bisnis baru. 

“Para pebisnis startup tersebut bak peselancar yang justru menjadikan krisis sebagai gelombang untuk berselancar, yakni dengan memulai dan bahkan malah membesarkan bisnisnya,” kata Jony.
 Selanjutnya