Dark/Light Mode

Popok Baby Happy Kupas Tuntas Perkembangan Bicara Si Kecil

Selasa, 23 November 2021 19:29 WIB
Popok Baby Happy Kupas Tuntas Perkembangan Bicara Si Kecil

RM.id  Rakyat Merdeka - Baby Happy, menggelar webinar terakhir rangkaian dari program CSR “Baby Happy, Keluarga Happy” Jilid 2 yang bertajuk “Kupas Tuntas Tahapan Perkembangan Bicara Anak & Solusi Atasi Speech Delay”. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kapasitas orang tua Indonesia melalui edukasi yang tepat untuk tumbuh kembang si kecil yang lebih baik.

Marketing Manager Baby Happy (Wings Group Indonesia), Julie Widayawati mengatakan, inisiatif ini merupakan wujud nyata dukungan serta kepedulian Baby Happy kepada keluarga Indonesia menjadi orang tua harus memiliki ilmu, tetapi tidak ada sekolahnya. "Kami berharap kehadiran Baby Happy dengan bantuan dan edukasi ini dapat membantu orang tua dalam menjalani peran sehari-hari, memberikan insight dari para pakar sehingga anak mereka dapat tumbuh kembang sehat dan optimal,” ujar Julie.

Berita Terkait : Baru Napas, Pengusaha Minta Pembatasan Jangan Kelamaan

Kenali tanda-tanda red flag pada tahapan bicara anak. Waspadai jika bayi usia 0-6 bulan tidak menoleh jika dipanggil namanya dari belakang, dan tidak ada babbling. Pada usia bayi 12 bulan jika bayi tidak menunjuk dengan jari dan ekspresi wajah kurang. Pada usia bayi 16 bulan jika tidak ada kata yang berarti. Dan jika tidak ada kalimat 2 kata yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan.

“Pantau tanda waspada pada setiap fase perkembangan bicara anak. Secara umum pada usia berapapun, bawalah anak ke dokter jika ia menunjukkan kemunduran dalam kemampuan berbicara atau kemampuan sosialnya,” ujar dr. Dini Adityarini, Sp.A, Dokter Anak dari RSIA Kendangsari MERR Surabaya.

Berita Terkait : Pertagas Komitmen Pacu Pengembangan Program CSR Lebih Baik

dr. Luh Karunia Wahyuni, Sp.KFR-K, Dokter Anak & Rehab Medik RSIA Bunda Jakarta yang hadir pula pada webinar ini menjelaskan tentang perbedaan gangguan bicara dan gangguan bahasa. Gangguan Bicara meliputi: Suara (nada, kenyaringan, resonansi atau kualitas yang disebabkan oleh gangguan struktur), Artikulasi (mengeluarkan suara yang salah - dapat berupa penambahan / pengurangan / distorsi), Kelancaran (Gangguan aliran bicara, biasanya terjadi pengulangan, perpanjangan, disertai ketegangan di wajah, leher, bahu, dan tangan (contoh: stuttering / gagap). Sedangkan Gangguan Bahasa meliputi: Ekspresif (tidak dapat mengungkapkan ide), Reseptif (kesulitan memahami apa yang dikatakan orang lain), Campuran (ekspresif & reseptif).

Dari sisi psikologi, Saskhya Aulia Prima, Psikolog Anak & Remaja, Co-Founder Tiga Generasi turut menjelaskan bahwa ada beberapa dampak yang dirasakan oleh anak speech delay, yaitu mereka lebih sulit mengelola perasaan karena sulit berekspresi; lebih tinggi kemungkinan menarik diri dari lingkungan sosial, kurang percaya diri, dan lebih sulit berkonsentrasi. Kabar baiknya adalah sekitar usia 5 tahun problem perilaku pada anak yang speech delay sering kali tidak ditemukan, dan sekitar 70-80% anak yang mengalami keterlambatan bicara akan berkembang sesuai dengan anak seusianya saat memasuki masa sekolah.

Berita Terkait : Kenapa Ada Larangan Bicara Di Taman Signature?

“Bagi beberapa yang mengalami speech delay memang seringkali mengalami tantangan di area manajemen emosi, kepercayaan diri, dan pergaulan sosial. Walaupun begitu kunci dari kemajuan perkembangan berbicara anak adalah konsistensi pemberian stimulasi dari orangtua yang jumlah waktu bersama anak tentunya lebih banyak dibandingkan dengan terapis wicara. Bukan hanya Ibu, tapi juga peran Ayah sangat besar dalam perkembangan bicara. Hal ini terjadi karena stimulasi kegiatan fisik aktif yang mengasah banyak area otak anak biasanya lebih sering dilakukan Ayah. Oleh sebab itu sangat perlu Ayah sering-sering bermain sambil mengajak anak mengobrol untuk meningkatkan kemampuan bicaranya, terang Saskhya.

Dengan webinar ini, Julie berharap Baby Happy terhadap seluruh keluarga Indonesia khususnya pada anak-anak. “Kiranya dengan 6 webinar edukasi dalam tahun ini kami dapat membantu orang tua dalam membesarkan anak. Dengan demikian anak bisa selalu aktif bermain, bergerak dengan nyaman sehingga mereka bisa bertumbuh dan berkembang lebih baik lagi,” tutup Julie. [ARM]